Kamis, 24 April 2014

Wayang Kulit

Pertunjukan Wayang-Selayang Pandang


Wayang Kulit-
(Selayang Pandang Tinjauan Nilai)























Wayang termasuk karya seni dan budaya Indonesia yang adi luhung.Wayang adalah seni pertunjukan teater boneka (berupa wayang kulit/wayang golek, dll) yang dipimpin oleh Dalang (penutur cerita) 
serta diiringi seperangkat Gamelan (seni Karawitan) berikut penembangnya (Sinden/penyanyi karawitan).  Di samping bernilai filosofi yang dalam, wayang juga sebagai wahana atau alat pendidikan moral dan budi pekerti atau yang dikenal dengan etika. Dunia perwayangan memberi peluang bagi orang Jawa untuk melakukan suatu pengkajian filsafi dan mistis sekaligus. Di sisi lain, cerita wayang merupakan suatu jenis cerita didaktik yang di dalamnya memuat ajaran budi pekerti yang menyiratkan tentang perihal moral. Bahkan bidang moral merupakan anasir utama dalam pesan-pesan yang disampaikan wayang. Sebagai jenis kesenian yang mencakup beberapa cabang seni (seni teater, ukir, musik, dan sastra), estetika wayang begitu indah dan mempesonakan. Nilai filosofi, etika, dan estetika itulah yang jika ditemukan dalam ritual ruwatan, sebuah tradisi kebudayaan Jawa yang ditandai dengan pergelaran wayang purwa cerita Bathara Kala dalam lakon “Murwakala”

Wayang memberikan gambaran lakon perikehidupan manusia dengan segala masalahnya yang menyimpan nilai-nilai pandangan hidup dalam mengatasi segala tantangan dan kesulitannya. Dalam wayang selain tersimpan nilai moral dan estetika, juga nilai-nilai pandangan hidup masyarakat Jawa. Melalui wayang, orang memperoleh cakrawala baru pandangan dan sikap hidup umat manusia dalam menentukan kebijakan mengatasi tantangan hidup. Hal itulah yang dirasakan Dr Franz Magnis Suseno SJ, seorang sarjana filsafat dan rohaniawan kelahiran Jerman yang kini bermukim di Jawa. Setelah menekuni wayang, sampaikah dia pada kesimpulan bahwa dalam memasuki kebudayaan Jawa, ternyata manusia memasuki kesadaran paling dalam seluruh umat manusia. Kebijaksanaan Jawa yang paling dalam, ternyata milik seluruh umat manusia. 1) Cerita wayang merupakan suatu jenis cerita didaktik yang memuat ajaran budi pekerti. Bahkan bidang moral, merupakan anasir utama dalam pesan-pesan wayang. Dua aspek (filosofi dan etika) dalam wayang ini disempurnakan dengan nilai estetika wayang sehingga seni wayang yang mencakup cabang kesenian ini (seni teater, musik, sastra, ukir, dan sebagainya), menjadi sebuah seni yang bernilai tinggi. Bisa dipahami, jika di tahun 2004 lalu, seni dan budaya wayang kulit dari Indonesia ini (the Wayang Puppet Theater of Indonesia) dinobatkan sebagai karya adiluhung (masterpiece) oleh PBB. Menurut Unesco, 28 jenis seni dan kebudayaan di dunia ini, wayang kulit menempati urutan pertama sebagai karya adi luhung lisan warisan kemanusiaan yang tak dapat dinilai (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).
  1. Nilai 
Perkataan “nilai” dapat didefinisikan sebagai perasaan tentang apa yang baik atau apa yang buruk, apa yang diinginkan atau apa yang tidak diinginkan, apa yang harus atau apa yang tidak boleh ada (Bertrabd 1967). Nilai berhubungan dengan pilihan, dan pilihan itu merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan. Seorang berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut sudut pandangannya mempunyai nilai-nilai. Robin Williams (1960) membicarakan “nilai sosial”, yaitu nilai yang dijunjung tinggi orang banyak. Ada juga “nilai etika atau moral”, yakni ketentuan-ketentuan atau cita-cita dari apa yang dinilai baik atau benar oleh masyarakat. Satu lagi, “nilai budaya” yakni konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagai besar masyarakat, mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup. (Koentjaraningrat 1980).
  1. Filosofi
Istilah filosofi berasal dari kata Yunani “philosophia” yang berarti “cinta kearifan”. Kata lain dari filosofi adalah filsafah, falsafah, falsafat), yang berarti pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada. Sebab, asal, dan hukumnya. Definisi lain, ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Sementara Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta didefinisikan dengan : pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab, asas hukum, dan sebagainya tentang segala yang ada dalam alam semesta, ataupun mengenai kebenaran arti “adanya” sesuatu.
Filsafat menurut anggapan orang Jawa ialah, usaha manusia untuk memperoleh pengertian dan pengetahuan tentang hidup menyeluruh dengan mempergunakan kemampuan rasio plus indera batin (cipta-rasa). Maka bagi kita, berfilsafat berarti “cinta kesempurnaan” (ngudi kasampurnan, ngudi kawicaksanan) dan bukan semata-mata “cinta kearifan”. 2) Jika orang jawa menyebut bahwa wayang mengandung filsafat yang dalam, dunia perwayangan memberi peluang bagi orang Jawa untuk melakukan suatu pengkajian filsafi dan mistis sekaligus. Dunia perwayangan kaya sekali dengan lambang atau pasemon, bahkan hampir seluruh eksistensi wayang itu sendiri adalah “pasemon”.
3.  Estetika dan Artistika
Estetika (estetis) adalah cabang filsafat yang mempersoalkan seni (art) atau artistic/artistika  dan keindahan (beauty). Istilah estetika berasal dari kata Yunani “aesthesis”, yang berarti pencerapan indrawi, pemahaman intelektual, atau bisa juga berarti pengamatan spiritual. Istilah art (seni) berarti seni, keterampilan, ilmu, atau kecakapan. Keindahan atau estetika merupakan bagian dari sebuah filsafat, sebuah ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Batasan keindahan sulit dirumuskan. Karena keindahan itu abstrak, identik dengan kebenaran. Maka batas keindahan pada sesuatu yang indah, dan bukannya pada “keindahan sendiri”. Nilai estetika atau nilai keindahan pada wayang banyak dan hampir menyeluruh dari setiap elemen pertunjukan wayang (wayang kulit). Demikian juga nilai artistikanya juga mencakup semua elemen kesenian wayang kulit.
Mengingat kesenian wayang kulit merupakan seni pertunjukan yang mencakup keseluruhan aspek/cabang seni yaitu:
1. Seni Rupa, meliputi wujud bentuk wayang kulit (tokoh-tokoh cerita wayang dan karakternya), perangkat alat musik gamelan (kendang, gong, rebab, kenong, kempul, gambang, bonang, gender, saron, kethuk, demung), tata busana (adat Jawa) yang dikenakan oleh Dalang, Pesinden/penyanyi karawitan, Pengrawit/penabuh gamelan.
2. Seni Teater, meliputi cerita dengan alur lakon serta gaya penceritaannnya oleh Ki Dalang. Termasuk juga selingan banyolan/lawakan/dagelan di sesi selingan cerita yang biasanya menampilkan komedian/pelawak yang kadang dikolaborasi dengan sesi munculnya tokoh-tokoh Punokawan/Wayang (Semar, Gareng, Petruk, Bagong).
3. Seni Musik, mencakup gamelan yang ditabuh dalam bentuk karawitan yang mendendangkan lagu-lagu/gending atau musik sesuai pakem pertunjukan lakon wayang dengan menampilkan suara pesinden/penyanyi. Juga gamelan yang ditabuh/dibunyiak untuk mengiringi berbagai adegan wayang kulit sehingga berfungsi sebagai musik ilustratif cerita wayang. Demikian juga jika dalam pertunjukan wayang kulit diwalai atau diselingi dengan tari-tarian seperti Tari Remo/Ngremo, serta tari tradisi Jawa yang lain sesuai pakem wayang.
4. Seni Tari, mencakup tari-tarian baik tari tunggal seperti Tari Remo untuk membuka/mengawali show sebelum pertunjukan inti wayang kulit dimulai. Dalam hal seni tari ini, tari-tarian para penari yang diiringi oleh pengrawit (Nayogo) atau penabuh gamelan dengan perangkat alat musik/gamelannya, juga untuk tari-tarian sebagai selingan cerita, sesi lawakan/dagelan, munculnya tokoh Punokawan dalam wayang kulit.

 







Pesinden/Sinden-penyanyi pertunjukan wayang kulit
Pertunjukan Wayang Wong (Wayang Orang)-Jawa Tengah & Jawa Timur 'kulonan/daerah barat'
Pertunjukan Wayang Wong (Wayang Orang)-Jawa Tengah
 
Wayang Golek dari Jawa Barat
 Wayang Golek dari Jawa Barat
Pesinden Wayang Kulit yang justru Orang barat/asing belajar budaya kita