Senin, 20 Agustus 2012

Apresiasi Cerita Rakyat oleh Sugeng Rianto


NILAI-NILAI MORAL

DALAM LEGENDA ASAL MULA BANYUWANGI

KARYA TIRA IKRANEGARA

Oleh :
Sugeng Rianto

ABSTRAK

-------------------. 2007. Nilai-Nilai Moral Dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi Karya Tira Ikranegara.

Kata-kata Kunci : Nilai, moral, legenda.

Salah satu bentuk dongeng yang amat digemari anak adalah dongeng berupa legenda yang diangkat dari cerita rakyat sebagai kekayaan budaya bangsa warisan para pendahulu kita yang di dalamnya terkandung suri teladan, nilai falsafah, nilai pendidikan, nilai moral, nilai etika, dan masih banyak lagi hal-hal positif  yang amat penting ditanamkan ke dalam jiwa anak semenjak usia dini. Legenda yang disampaikan kepada anak-anak  biasanya berupa cerita pilihan yang amat berguna bagi pembentukan  budi pekerti anak serta mampu menimbulkan motivasi bagi anak untuk belajar tentang makna kehidupan. Melalui cerita legenda, anak belajar tentang makna suatu pengabdian, pengorbanan, kesetiaan, dan sejenisnya, yang pada gilirannya akan menumbuhkan rasa saling menghormati, yang nantinya  sebagai bekal untuk bersatu padu dalam ikatan kebangsaan yang kuat yaitu sebagai bangsa Indonesia.
Penelitian ini berjudul Nilai-Nilai Moral Dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi Karya Tira Ikranegara. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang: (1). bentuk kejujuran antar manusia dalam legenda Asal Mula Banyuwangi, (2) bentuk kebersatuan hidup dalam legenda Asal Mula Banyuwangi, dan (3) bentuk kesetiaan dan cinta kasih dalam legenda Asal Mula Banyuwangi. Sehingga yang menjadi sumber data sebagai kajian tekstual penelitian ini adalah buku seri cerita rakyat berupa Legenda Asal Mula Banyuwangi Karya Tira Ikranegara.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang dilakukan melalui studi dokumentasi, yaitu penelitian yang mendeskripsikan nilai-nilai moral yang tercermin dalam legenda asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara.
Berdasarkan analisis data penelitian dapatlah dideskripsikan bahwa nilai moral yang berkaitan dengan kejujuran, kebersatuan dalam hidup, serta kesetiaan dan cinta kasih tercermin pada sikap dan perilaku Dewi Surati yang menjadi tokoh utama dalam legenda ini yang tidak mau berkhianat kepada suaminya yang sebenarnya adalah putra raja yang menghancurkan ayahandanya. Meskipun fitnah terhadap dirinya bermula justru dari kakaknya sendiri yang masih berupaya membalas dendam. Bahkan wujud kesetiaan dan cinta kasih Dewi Surati terhadap sang suami yang termakan hasutan, dibuktikan dengan kerelaan pengorbanannya sendiri sehingga air sungai yang menelan dirinya berbau wangi. Banyuwangi.
Saran yang dianjurkan berkaitan hasil penelitian ini adalah agar pembelajaran sastra melalui kajian tekstual terhadap cerita rakyat seperti dongeng dalam bentuk legenda dapat diajarkan dengan sebaik-baiknya kepada siswa dalam menggairahkan kegiatan apresiasi sastra Indonesia, di samping bentuk-bentuk karya sastra yang lain.
Penulis




BAB I   PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang Masalah

Cerita rakyat Nusantara adalah hasil budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Di dalamnya terkandung suri teladan, nilai falsafah, nilai pendidikan, nilai moral, nilai etika, dan masih banyak lagi hal-hal positif  yang amat penting ditanamkan ke dalam jiwa anak semenjak usia dini. Salah satu bentuk dongeng yang amat digemari anak adalah dongeng yang diangkat dari cerita rakyat.
Cerita rakyat yang disampaikan kepada anak-anak dalam bentuk mendongeng, biasanya berupa cerita pilihan yang amat berguna bagi pembentukan  budi pekerti anak serta mampu menimbulkan motivasi bagi anak untuk belajar tentang makna kehidupan. Melalui dongeng yang diangkat dari cerita rakyat, anak belajar tentang makna suatu pengabdian, pengorbanan, kesetiaan, perjuangan, kepahlawanan; anak bisa belajar membedakan perbuatan yang baik dan yang buruk/jahat, sifat jujur dan bohong, watak setia dan khianat, semangat yang gigih/ulet dan yang malas, pribadi yang pandai dan yang bodoh/pandir, yang berbakti dan yang durhaka, pemimpin yang adil bijaksana dan yang pemimpin yang tamak; anak diajarkan tentang rasa setia kawan, yang pada gilirannya akan menumbuhkan rasa saling menghormati, dan rasa saling menghormati itulah yang nantinya menjadi bekal untuk bersatu padu dalam ikatan kebangsaan yang kuat yaitu sebagai bangsa Indonesia.
Nusantara yang kaya raya akan budaya, banyak menyimpan ribuan cerita rakyat yang menarik untuk diketahui, diajarkan, dan diteladani. Kesemuanya terhampar bak ratna mutu manikam yang menjadi aset kebanggaan setiap daerah di Indonesia. Wujud kekayaan bangsa Indonesia semenjak dahulu kala di antaranya adalah dongeng yang tumbuh berkembang sebagai cerita rakyat, yang pada awalnya sebagai sastra tutur/lisan dan mengangkat idiom budaya daerah, kekayaan budaya Indonesia.
Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih di era globalisasi dewasa ini, banyak orang tua yang karena kesibukannya tidak sempat mendongengkan cerita kepada putra-putrinya. Nilai-nilai warisan leluhur sebagai kebanggaan budaya yang adiluhung milik bangsa Indonesia  dikhawatirkan akan semakin tergeser oleh budaya mancanegara yang kini kian merebak digemari oleh hampir mayoritas anak-anak Indonesia. Anak-anak lebih menggemari dongeng dan cerita fantasi seperti Putri Cinderella, Putri Salju, Pinokio, Spiderman, Mickey Mouse, Popeye, Sin Chan dan lain-lain yang kesemuanya berasal dari impor, daripada legenda seperti Joko Tarub, Ande-Ande Lumut, Hikayat Si Kancil, Lutung Kasarung, Ciung Wanara, dan sebagainya. Ketertinggalan kita dalam cara pengemasan produk budaya seperti film animasi (film kartun) dan film fantasi lainnya untuk mengangkat harkat budaya milik bangsa sendiri, hendaknya tidak menyurutkan langkah kita untuk tetap melestarikan sastra lisan yang berupa mendongeng.
Terpanggil oleh adanya fenomena budaya seperti tersebut di atas, peneliti bertekad mengangkat topik penelitian yang mengambil judul Nilai-nilai Moral Dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi KaryaTira Ikranegara.

1.2  Masalah

1.2.1        Ruang Lingkup Masalah
----------ada di file lain---komplit---dan sudah dibuat skripsinya
1.2.2        Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya masalah yang bisa dikaji dalam penelitian tentang karya sastra lama yakni dongeng yang berupa legenda, maka penulis membatasi pada permasalahan sebagai berikut: (1) Kejujuran antar manusia, (2) Kebersatuan dalam hidup, (3) Kesetiaan dan cinta kasih.

1.2.3        Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi :
(1)    Bagaimanakah bentuk kejujuran antar manusia dalam legenda Asal Mula Banyuwangi dari Jawa Timur ini?
(2)    Bagaimanakah bentuk kebersatuan hidup dalam legenda Asal Mula Banyuwangi dari Jawa Timur ini?
(3)    Bagaimanakah bentuk kesetiaan dan cinta kasih dalam legenda Asal Mula Banyuwangi dari Jawa Timur ini?

1.3  Tujuan Penelitian

1.3.1        Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara objektif tentang nilai-nilai moral dalam dongeng yang berupa legenda Asal Mula Banyuwangi susunan Tira Ikranegara.
1.3.2        Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah deskripsi secara objektif tentang nilai-nilai moral dalam legenda Asal Mula Banyuwangi, yang meliputi:
(1)   Kejujuran antar manusia yang terdapat dalam legenda Asal Mula Banyuwangi dari Jawa Timur karya Tira Ikranegara.
(2)   Kebersatuan dalam hidup yang terdapat dalam legenda Asal Mula Banyuwangi dari Jawa Timur karya Tira Ikranegara.
(3)   Kesetiaan dan cinta kasih yang terdapat dalam legenda Asal Mula Banyuwangi dari Jawa Timur karya Tira Ikranegara.

1.5 Manfaat Penelitian

1.      Bagi Peneliti
a)      Sebagai bekal pengalaman di bidang penelitian yang berhubungan dengan analisis nilai-nilai moral dalam legenda.
b)       Mengetahui gambaran secara obyektif tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam legenda Asal Mula Banyuwangi susunanTira Ikranegara.
2. Bagi Penelitian Selanjutnya
a)      Sebagai dasar penelitian lebih lanjut di masa mendatang.
b)      Sebagai bahan yang perlu dikaji kebenarannya tentang teori yang disusun oleh peneliti agar sesuai dengan hasil penelitian yang diharapkan.
3.      Bagi Pengajaran Bahasa Indonesia
Dengan hasil penelitian ini agar dapat meningkatkan kemampuan apresiasi siswa dalam menganalisis nilai-nilai moral dalam suatu karya sastra lama yaitu dongeng yang  berupa legenda.
1.6 Asumsi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan bertolak dari asumsi sebagai berikut:
(1)   Karya sastra termasuk prosa lama berupa dongeng dalam bentuk legenda merupakan sarana yang berfungsi menanamkan nilai-nilai kehidupan manusia termasuk nilai-nilai moral.
(2)   Nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra termasuk sebagai konsumsi cerita anak-anak, oleh pengarang dilakukan dengan cara langsung berupa ajaran yang secara implisit dapat dipahami berdasarkan sikap hidup pikiran dan perasaan tokoh baik dalam bentuk monolog, dialog, maupun deskripsi peristiwa dalam cerita.
1.7 Penegasan Istilah
Beberapa istilah ditegaskan dalam penelitian ini dengan maksud agar diperoleh kesamaan persepsi terhadap istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian.
(1)   Nilai, adalah sesuatu penghargaan atas kualitas terhadap sesuatu yang dapat dijadikan penentu seseorang dalam bertingkah laku. Nilai ini bersifat abstrak.
(2)   Nilai moral, adalah suatu nilai yang mendasari ajaran tentang baik buruk yang diterima umum berkaitan dengan perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, akhlak, susila, adat dalam pengembangan hidup dengan cara dan tujuan yang benar.
(3)   Legenda adalah jenis dongeng yang isinya berhubungan dengan kejadian-kejadian alam atau terjadi di suatu tempat, dengan dibumbui khayalan, tetapi dibuat seakan-akan benar-benar terjadi.
(4)   Cerita adalah tuturan baik lisan atau tulisan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu peristiwa.
(5)   Mendeskripsikan adalah memaparkan atau menggambarkan secara verbal dengan uraian yang jelas dan objektif.

 

BAB II    KAJIAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Dongeng
  Dongeng adalah cerita yang bersifat khayal (Depdiknas, 2005: 30). Dongeng menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) (Badudu, 1996:355) adalah cerita yang dikarang-karang saja karena banyak hal di dalamnya yang tidak masuk akal atau tudak dapat ditemukan dalam kenyataan hidup sehari-hari misal orang yang bisa terbang, dapat menghilang, dapatmenjelma ke dalam tubuh yang lain, binatang yang dapat berkata-kata.
Mendongeng merupakan kegiatan menceritakan atau menuturkan dongeng, yaitu menceritakan dongeng secara lisan, baik berdasarkan teks dongeng atau tidak. (Depdiknas, 2005: 29)
Dongeng (termasuk cerita anak atau cernak) sebagai salah satu bentuk karya sastra termasuk dalam katagori sastra klasik yang bisa disebut sebagai sastra lama atau sastra tradisional, adalah karya sastra yang tercipta dan berkembang sebelum masuknya unsur-unsur modernisme ke dalam sastra. Dalam ukuran waktu, sastra klasik (Nusantara) dibatasi sebagai sastra yang berkembang sebelum tahun 1920-an, yakni rentang waktu sebelum lahirnya tren sastra Angkatan Balai Pustaka (Abdul Rani, 2004:21).
Dongeng bisa diartikan sebagai ceritera khayalan yang mengisahkan kejadian luar biasa. Ceritera yang dikisahkan biasanya tentang dewa, peri, putri cantik, pangeran yang gagah dan tampan, resi sakti, orang miskin yang mendadak kaya raya, orang menderita yang tiba-tiba beruntung, binatang yang dapat berbicara bagaikan manusia, dan sebagainya. Bentuk dongeng bermacam-macam, di antaranya mite, sage, fabel, legenda, cerita pelipur lara, dan cerita perumpamaan (Abdul Rani, 2004:36).

2.2 Macam-macam Dongeng

Dongeng menurut sejarah asal muasal cerita dalam sastra Indonesia meliputi beberapa jenis (Effendy, 1984:51-54) antara lain :
1.       Mite,  menurut pengertian Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu, 1996:903) adalah hikayat tentang dewa-dewa seperti Hikayat Mahabharata, Hikayat Sang Boma. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1995:660) adalah cerita yang mempunyai latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal yang ajaib, dan umumnya ditokohi oleh dewa. Mite merupakan dongeng yang isinya berhubungan dengan kehidupan dewa-dewi, roh halus, dan sebagainya yang timbulnya berkaitan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme di kalangan masyarakat lama. Contoh : Cerita tentang Nyi Roro Kidul, Harimau Jadi-jadian, dan sebagainya.
2.      Legenda,  menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu, 1996:788) adalah cerita atau dongeng yang dengan dicari-cari dihubungkan dengan kenyataan di alam; misal Gunung Tangkubanperahu (dihubungkan dengan dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi). Contoh lain misalnya : Asal-muasal Surabaya, Asal Usul Danau Toba, dan lain-lain.
Legenda termasuk jenis dongeng yang isinya berhubungan dengan kejadian-kejadian alam atau terjadi di suatu tempat, dengan dibumbui khayalan, tetapi dibuat seakan-akan benar-benar terjadi. Misalnya : Malin Kundang, Batu Menangis, Tangkuban Perahu, Asal Mula Surabaya, dan sebagainya.
3.      Fabel, menurut pengertian Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu, 1996:402) adalah cerita yang tokoh-tokoh pelakunya adalah binatang yang berpikir dan bertindak sebagaimana manusia dan menggambarkan watak serta budi manusia.
Fabel merupakan bentuk dongeng yang isinya berhubungan dengan dunia binatang. Kehidupan binatang diceritakan bisa berbicara, berbuat, dan bertingkah laku seperti manusia. Isi fabel pada umumnya bersifat didaktis, karena memberi pelajaran moral dan nilai kesusilaan serta perilaku yang baik kepada manusia. Termasuk dalam fabel adalah cerita si Kancil (di Indonesia), Serigala (di Belanda), Kelinci (di Campa). Oleh sebab itu, fabel merupakan dongeng yang universal.
4. Sage, adalah dongeng yang isinya mempunyai unsur sejarah. Tokoh-tokoh ceritanya pernah disebut-sebut dalam sejarah, namun unsur khayalnya lebih ditonjolkan daripada kenyataannya. Contoh : Joko Tingkir, Ciung Wanara, Hang Tuah, dan sebagainya.
4.      Parabel atau Cerita Ibarat adalah dongeng yang isinya bersifat mendidik, diceritakan tokoh-tokohnya yang pantas diteladani maupun tokoh-tokoh yang tidak boleh ditiru. Cerita disusun untuk menyampaikan ajaran agama, menanamkan nilai moral dan kebenaran. Contoh : Cerita Damarwulan, Cerita Malin Kundang, Sangkuriang, induk Padi, dan sebagainya.
2.3  Pengertian Prosa Fiksi
Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Karya fiksi mengandung unsur-unsur meliputi (1) pengarang atau narator, (2) isi penciptaan, (3) media penyampai isi berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen fiksional sehingga menjadi suatu wacana. Pengarang dalam memaparkan isi karya fiksi bisa lewat (1) penjelasan atau komentar, (2) dialog maupun monolog, dan (3) lakuan atau action  (Aminuddin, 2004:66).
2.4 Apresiasi Karya Sastra
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. S. Effendi dalam (Aminuddin, 2004:35) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
Boulton (dalam Aminuddin, 2004:37) beranggapan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberi kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai macam problema kehidupan ini.
Aminuddin (2004:38) lebih menegaskan bahwa cipta sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks, yaitu (1) unsur keindahan; (2) unsur kontemplatif hasil perenungan terhadap nilai-nilai keagamaan, filsafat, politik, dan berbagai macam kompleksitas kehidupan; (3) media pemaparan, baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana; serta (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan karakteristik cipta sastra sebagai suatu teks.
Bekal awal yang harus dimiliki seorang calon apresiator adalah (1) kepekaan emosi sehingga mampu memahami unsur-unsur keindahan di dalam cipta sastra, (2) wawasan pengetahuan, penghayatan, dan pengalaman atas kehidupan dan kemanusiaan, (3) pemahaman aspek kebahasaan, dan (4) kepekaan terhadap unsur-unsur intrinsik cipta sastra yang berhubungan dengan telaah teori sastra (Aminuddin, 2004:38).
2.5  Fungsi Dongeng Bagi Anak-anak
Manfaat dongeng adalah memberi hiburan, mengajarkan kebenaran, dan memberikan keteladanan (Depdiknas, 2005: 31). Hibana S. Rakhman dalam bukunya Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, dalam (Depdiknas, 2005: 31) menyebutkan manfaat dongeng bagi anak adalah (1) mengembangkan fantasi, (2) mengasah kecerdasan emosional, (3) menumbuhkan minat baca, (4) membangun kedekatan dan keharmonisan, dan (5) menjadi media pembelajaran.

2.6 Pengertian Nilai

Nilai merupakan realitas abstrak. Nilai, bisa kita rasakan dalam diri kita masing-masing sebagai daya pendorong dan sebagai prinsip  yang menjadi pedoman dalam hidup. Sehingga nilai menduduki tempat terpenting dalam kehidupan seseorang, sampai pada suatu tingkat demi menjunjung tinggi suatu nilai yang diyakini, sementara orang lebih siap mengorbankan hidupnya daripada harus mengorbankan nilai, Ambroise (dalam Kaswardi, 1993:17).

2.6.1 Nilai Moral dalam Kehidupan Sosial

Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dalam menjalani kehidupan ini tentu membutuhkan suatu tuntunan atau pegangan hidup agar selamat dan tidak tersesat. Manusia sebagai makhluk bermoral dan berbudaya, untuk memperoleh nilai-nilai moral bisa didapatkan dari ajaran agama, pendidikan, dan lingkungan baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial. Nilai moral berhubungan dengan perilaku (akhlak) manusia kepada Tuhan dalam konteks bahawa manusia sebagai insan makhluk Tuhan, dan tingkah laku manusia dalam interaksi sosial dalam kerangka bahwa manusia sebagai makhluk sosial.
Nilai-nilai moral menjadi dasar yang menuntun tujuan dan tingkah laku dalam kehidupan sosial. Dalam berinteraksi sosial, manusia dituntut harus memenuhi segala kebutuhan hidup dengan cara yang benar serta untuk tujuan yang benar pula.
Nilai-nilai dalam kehidupan moral manusia bisa mencakup: (1) kejujuran antar manusia, Simorangkir,  Fachruddin, dan Mulder (dalam Surtijah, 2006:14-15); (2) kebersatuan dalam hidup, Mulder dan Magnis Suseno (dalam Surtijah, 2006:15-16); (3) kesetiaan dan cinta kasih Mulder (dalam Surtijah, 2006:16), (4) Kebenaran akhirnya akan mencuat; dan (5) ketabahan berbuah kebajikan, Poedjawiyatna (dalam Susrtijah, 2006:17).

2.6.2 Peranan Guru Dalam Pembentukan Sikap Siswa

Penanaman nilai-nilai moral di sekolah dipengaruhi oleh sikap dan tindakan guru terhadap murid atau sebaliknya. Peranan guru di sekolah sebagai figur dalam kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik harus bisa menunjukkan perilaku yang layak sesuai harapan masyarakat.
Bila murid diharapkan menghormati sesamanya, maka guru harus memberi contoh dengan menghargai murid sebagai pribadi yang utuh. Guru harus menempatkan posisi murid bukan sebagai obyek semata-mata yang harus selalu bersikap “diam dan taat”, melainkan sebagai pribadi yang memiliki hak dan nilai sama seperti guru, Gauthy (dalam Kaswardi, 1993:116).
Mengacu pada teori Piaget tentang kemandirian merupakan tujuan pendidikan, Constance Kamii (dalam Kaswardi, 1993:56-58) membagi dalam tiga bagian meliputi: (1) kemandirian moral, (2) kemandirian intelektual, dan (3) kemandirian dalam mencapai tujuan pendidikan. Dalam konteks kemandirian moral, mandiri diartikan sebagai “diperintah oleh dirinya sendiri”, yang oleh Piaget (1948) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semakin seseorang mampu memerintah dirinya sendiri, semakin ia kurang diperintah oleh orang lain.
Hakekat kemandirian adalah kemampuan anak membuat keputusan bagi diri sendiri. Tetapi kemandirian tidak identik dengan kebebasan mutlak. Kemandirian berarti memperhitungkan semua faktor yang relevan dalam enentukan arah tindakan yang terbaik bagi semua yang berkepentingan, demikian teori Piaget yang disunting Kamii (dalam Kaswardi, 1993:59-60).

2.7 Pendidikan Nilai dan Sastra

Jakob Sumardjo (dalam Kaswardi, 1993:147-153) menekankan pentingnya penanaman nilai dalam dunia pendidikan melalui membaca karya sastra, karena sebuah karya sastra juga berfungsi mendayagunakan nilai. Muatan nilai-nilai yang dikandung dalam sastra, kadang ada karya sastra yang mempertegas nilai-nilai yang umum dianut oleh masyarakat zamannya. Karya demikian bersifat didaktik.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Metodologi Penelitian
Dalam suatu penelitian ilmiah, metodologi menempati peranan yang sangat penting sesuai dengan obyek penelitian.
Yang dimaksudkan dengan metodologi di sini adalah kerangka teoritis yang dipergunakan oleh penulis untuk menganalisa, mengerjakan, atau mengatasi masalah yang dihadapi itu. Kerangka teoritis atau kerangka ilmiah merupakan metode-metode ilmiah yang akan diterapkan dalam pelaksanaan tugas itu  (Keraf, 2001:310).
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian (research methods) adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam merancang, melaksanakan, mengolah data, dan menarik kesimpulan berkenaan dengan masalah penelitian tertentu (Sukmadinata, 2006:317).
Penelitian ini berjudul Nilai-nilai Moral dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara. Pendekatan yang digunakan melalui metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena-fenomena, peristiwa, aktivitas sosial secara alamiah (Sukmadinata, 2006:319).
Penggunaan metode ini bertujuan untuk menggambarkan peristiwa secara objektif dengan cara mengungkapkan nilai-nilai moral yang dipaparkan secara monolog, dialog, dan narasi tokoh cerita dalam dongeng yang berbentuk legenda Asal Mula Banyuwangi susunan Tira Ikranegara.
3.3 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, karena seluruh kegiatan yang dilakukan dan hasil yang diharapkan dari penelitian ini didasarkan pada paradigma penelitian kualitatif. Freeman dan Long (dalam Surtijah, 2006:19) mengemukakan paradigma yang dimaksud di antaranya: (1) berorientesi pada proses, (2) datanya berupa verbal/paparan bahasa, (3) hasil temuan tidak untuk digeneralisasikan sehingga tidak bisa diberlakukan untuk karya orang lain, (4) peneliti memiliki peran sebagai instrumen utama, sehingga hasil penelitian sangat ditentukan oleh kedalaman pengetahuan dan pengalaman peneliti.
Penelitian ini mengkaji nilai moral dalam dongeng yang menyangkut pemikiran serta nilai normatif yang berhubungan dengan hidup manusia sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan, maka pendekatan yang dipakai adalah pendekatan moral.
3.4  Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah legenda Asal Mula Banyuwangi.  Sumber data penelitian merupakan suatu teks atau wacana sastra yang memiliki berbagai unit tekstual. Unit-init tekstual yang dimaksud adalah bagian terkecil dari keseluruhan isi cerita yang diambil sebagai korpus data yang diteliti. Pertimbangan ditulisnya legenda Asal Mula Banyuwangi, karena cerita tersebut mengandung nilai-nilai yang berguna bagi anak-anak. Dengan demikian sebagai karya sastra, maka eksistensi cerita rakyat karya

3.5  Obyek Penelitian

Obyek penelitian ini diambil dari legenda berjudul Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara terbit tahun 2005. Berbentuk tekstual yang berisi tentang nilai-nilai moral yang diambil secara langsung dari karya sastra tersebut. Kutipan tekstual selanjutnya dianalisis nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Adapun nilai-nilai moral yang dijadikan obyek penelitian ini antara lain : (1) kejujuran sesama manusia, (2) kebersatuan dalam hidup, dan (3) kesetiaan dan cinta kasih.


3.6  Teknik Penelitian

3.6.1   Teknik Pengumpulan data

Teknik yang digunakan untuk pengeumpulan data adalah menggunakan teknik tekstual, yaitu analisis atau telaah terhadap teks dan penafsirannya, yang diambil dalam bentuk korpus data disebut juga observasi tidak langsung. Peneliti tidak turun lapangan, tetapi memanfaatkan dokumen tertulis. Legenda Asal Mula Banyuwangi yang dikaji dalam penelitian ini merupakan obyek, yang berupa karya sastra. Langkah-langkah operasionalnya adalah sebagai berikut (1) membaca karya sastra; (2) mengklasifikasikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam cerita tersebut.


3.6.2        Teknik Analisis Data

Analisis data menurut Patton (dalam Surtijah, 2006:22) adalah mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola katagori dan satuan uraian sehingga ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan oleh data. Pendekatan yang digunakan adalah melalui kajian nilai moral sehingga lebih banyak mengandalkan interpretasi atau penafsiran dari paparan data penelitian.

 

Dalam menganalisis data penelitian, peneliti menggunakan skenario berupa tahapan teknik analisis data meliputi: (1) mengumpulkan data-data yang mengandung nilai-nilai moral; (2) mengklasifikasikan data dengan memilah-milah sesuai kriteria; (3) menginterpretasikan data, yaitu data dikelompokkan dengan memberi penafsiran yang sesuai dengan permasalahan penelitian; (4) pengkatagorian data, melalui telaah ulang paparan cerita secara intensif dan observatif agar diperoleh gambaran yang utuh; dan (5) mendeskripsikan hasil analisis secara verbal sebagai suatu hasil analisis.

 

3.6.3        Kehadiran Peneliti
Peneliti sebagai instrumen utama menggunakan spesifikasi data (kisi-kisi instrumen) dalam mengambil dan mengolah data seperti yang disusun berikut ini.

Tabel 3.1 Spesifikasi Data


Nomor Variabel
yang diteliti

 

Indikator

 

Kriteria

1. Nilai-nilai Moral

a.     Kejujuran sesama
     manusia


b.     Kebersatuan dalam hidup






c.     Kesetiaan dan     cinta kasih
a.a Menghormati orang lain
a.bTidak mementingkan diri sendiri
a.c Bekerja sama


b.a Saling menerima
b.b Mengatasi perbedaan sehingga tercipta kehidupan harmonis
b.c  Sadar dan bersedia meringankan beban orang lain



c.a Rela berkorban
c.b Suka menolong


3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Tahap Persiapan
 (a)  Penyusunan rancangan penelitian
Dimulai dari merumuskan tujuan penelitian, merumuskan  gambaran operasional kerja secara sistematis, membuat desain dengan membuat pedoman kerja hingga menemukan kemantapan desain penelitian.
(b)    Studi Pustaka
Dilakukan untuk memperoleh landasan yeng relevan dengan penelitian.
3.5.2 Tahap Pelaksanaan
            Dilakukan dengan beberapa tahapan, meliputi:
(a)    Pengumpulan Data, yaitu mengumpulkan seluruh data dalam dongeng berupa legenda Asal Mula Banyuwangi, dengan cara: (1) kodifikasi korpus data dan deskripsi data, (2) interpretasi data, (3) rekapitulasi temuan, dan (4) deskripsi kualitatif temuan.
(b)   Analisis Data, dengan menganalisis tokoh berdasarkan tahapan kerja : (1) mengklasifikasi data, dan (2) mendeskripsikan secara kualitatif temuan dalam legenda Asal Mula Banyuwangi susunan Tira Ikranegara.
3.5.3 Tahap Penyelesaian
Tahap penyelesaian ini merupakan tahap akhir setelah penelitian selesai dilaksanakan. Tahap penyelesaian ini meliputi beberapa kegiatan yaitu : (a) penyusunan dan penulisan laporan, (b) mengkonsultasikan laporan kepada dosen pembimbing, (c) pengetikan laporan setelah dilakukan revisi, (d) penggandaan laporan kemudian diajukan kepada tim dosen penguji.

BAB  IV  DESKRIPSI HASIL ANALISIS


4.1 Pengantar

Sebagaimana yang menjadi tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam dongeng berupa legenda Asal Mula Banyuwangi, maka pada bab IV ini dikemukakan hasil analisis data penelitian yang merupakan jawaban dari rumusan permasalahan penelitian ini. berkaitan dengan hal tersebut, ada tiga hal yang dideskripsikan dalam bab ini, yaitu (1) Kejujuran antar manusia yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara, (2) Kebersatuan dalam hidup yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara, dan (3) Kesetiaan dan cinta kasih yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara. Ketiga hal tersebut akan dideskripsikan, namun sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu ringkasan cerita (Sinopsis) legenda Asal Mula Banyuwangi sebagaimana yang berikut ini.

4.2 Ringkasan Cerita Legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara

Legenda Asal Mula Banyuwangi tidak terlepas dari latar historis yaitu tentang sejarah kekuasaan kerajaan Blambangan yang menggulingkan kerajaan Klungkung di pulau Dewata, Bali, dalam rangka ekspansi (memperluas) wilayah kekuasaan kerajaan Blambangan di bawah pimpinan Prabu Menak Prakosa, yang konon masih keturunan dari Prabu Menak Jingga.

Dewi Supraba dan kakandanya yaitu Raden Bagus Tantra adalah dua putra-putri Baginda Raja Klungkung,  bersama senopati Cokorde Rai diperintahkan oleh baginda raja agar segera meninggalkan istana, menyingkir bersembunyi, menjelang kedatangan serangan dari kerajaan Blambangan.

Syahdan, kerajaan Klungkung bisa digulingkan oleh pasukan di bawah pimpinan langsung Prabu Menak Prakosa yang berhasil menewaskan Baginda Raja Klungkung. Klungkung dikuasai Blambangan dan dijadikan kadipaten di bawah pimpinan panglima perang Rogojampi yang diangkat oleh Prabu Menak Prakosa sebagai Adipati Klungkung, karena jasanya membantu upaya penaklukan tersebut.

Adipati Rogojampi segera memerintahkan anak buahnya mencari keberadaan keturunan raja Klungkung yaitu Dewi Supraba dan Raden Bagus Tantra ke seluruh pelosok pulau Bali agar menyerahkan diri, dengan menjanjikan bahwa Dewi Supraba akan dipersitri serta akan dijadikan garwa permaisuri kadipaten dan kakandanya akan diangkat sebagai patih di kadipaten Klungkung. Namun upaya ini tidak pernah berhasil karena kedua pelarian ini bagaikan lenyap di telan bumi pulau Dewata.            

Raden Banterang adalah putra mahkota kerajaan Blambangan. Ia memiliki perangai buruk yaitu suka mentang-mentang sebagai putra mahkota, suka menghukum dengan semena-mena orang yang berbuat salah, dan suka mengambil keputusan tergesa-gesa tanpa pertimbangan yang masak. Termasuk pengambilan keputusan untuk memperistri Dewi Surati yang sebenarnya adalah Dewi Supraba yang menyamar menjadi gadis desa biasa saat pelarian oleh kejaran pasukan Blambangan, dan hendak diperkosa oleh dua orang perampok di tepian sebuah sungai. Beruntung Dewi Surati tergolong wanita yang tahu membalas budi dan tidak memiliki sifat pendendam. Meskipun terhadap suaminya sendiri, yaitu putra musuh Ramandanya yaitu Raden Banterang, Dewi Surati tetap setia karena merasa telah ditolong oleh Raden Banterang, dan masalah dendam itu urusan lain dan ia tidak memiliki sifat pendendam itu, karena saat penyerbuan ke kerajaan ayahandanya yaitu kerajaan Klungkung, Raden Banterang tidak ikut serta.

Awal menikmati masa pernikahan mereka, Dewi Surati diperlakukan istimewa dan mendapat perhatian yang lebih dari istana. Namun setelah sekian tahun belum memberi keturunan, hanya Prabu Menak Prakosa yang masih tetap menyayanginya. Ibunda permaisuri tidak demikian, termasuk suaminya sendiri yang justru sering meninggalkannya dengan  berburu dan berguru ilmu kanoragan dan ilmu kesaktian. Hingga suatu ketika, saat Dewi Surati sendirian, ia kedatangan kakaknya yaitu Bagus Tantra yang datang dengan menyamar menjadi pengemis.

Kedatangan Bagus Tantra tidak lain adalah menghasut Dewi Surati agar bersedia membuat kekacauan dengan membunuh suaminya, Raden Banterang, bahkan mertuanya sendiri yaitu Prabu Menak Prakosa dengan tujuan merebut kekuasaan kembali kerajaan Klungkung dengan cara subversi sekaligus suksesi di pusat pemerintahan, yakni kerajaan Blambangan. Hal ini ditolak oleh Dewi Surati, karena ia menyadari bahwa dirinya sudah ditolong saat hidupnya terlunta-lunta.

Dengan keris pusaka peninggalan mendiang Ramandanya yaitu Baginda Raja Klungkung yang diletakkan di bawah bantal tempat tidur Dewi Surati, adiknya sendiri, Bagus Tantra yang masih dalam penyamarannya, berganti menghasut Raden Banterang dengan membuka rahasia jati diri adiknya bahkan mengatakan jika Dewi Surati berencana membunuh Raden Banterang, juga Prabu Menak Prakosa akan dibunuhnya pula. Keris pusaka kerajaan Klungkung yang dipersiapkan di bawah bantal tempat tidurnya sebagai bukti jika Raden Banterang tidak percaya.

Raden Banterang yang memang berperangai buruk suka gegabah dalam mengambil keputusan, segera termakan hasutan si pengemis. Sepulangnya dari berburu, ia langsung menghardik dan menuduh istrinya. Dewi Surati kendatipun sudah berusaha meyakinkan dengan bersumpah masih tetap setia kepada suaminya, Raden Banterang, dan tidak sedikitpun terbersit keinginan berkhianat apalagi membalas dendam, namun Raden Banterang sudah tertutup mata hatinya. Di tepi sungai yang dulu ia menolongnya, Raden Banterang membawa Dewi Surati sambil menunjukkan sebilah keris pusaka kerajaan Klungkung kepada Dewi Surati sembari minta kepastian siapa jati diri sebenarnya istrinya itu. Dewi Surati yang terbelalak tidak mengerti, segera menyadari jika kakaknya sendiri, Bagus Tantralah yang telah menghasut suaminya. Maka, saat suaminya minta bukti pengakuan dan kesetiaan darinya, ia menolak keris pusaka itu agar tidak terkotori oleh darahnya. Dewi Surati punya cara lain yaitu segera menceburkan diri ke dalam derasnya arus sungai, sembari sebelumnya berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan bersumpah kepada suaminya bahwa jika air sungai yang menelan dirinya nanti berbau wangi itu pertanda dirinya istri yang setia, tetapi jika sebaliknya berbau busuk pertanda dirinya istri yang salah dan khianat.

Tiba-tiba, air sungai yang menelan lenyap tubuh Dewi Surati segera beraroma wangi sesaat setelah Dewi Surati menceburkan diri. Raden Banterang terkesiap seraya berteriak “Banyuwangi.” Setelah itu Raden Banterang menyadari dan menyesali diri, karena kecerobohannya sehingga istrinya yang setia dan tidak pernah berkhianat  menjadi korban. Tempat dan sungai itulah, yang kelak dikemudian hari terkenal dengan sebutan kota Banyuwangi.


4.3  Deskripsi Kejujuran sesama manusia yang tercermin dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi

Kejujuran bisa diartikan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan atau tingkah laku seseorang. Orang akan menjadi bermartabat karena sikap kejujurannya, sebaliknya orang akan dilecehkan dan tak berharga karena ketidakjujurannya, baik di mata manusia apalagi di hadapan Tuhan. Bantuk kejujuran antarmanusia yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara, serta bukti temuan data tekstual dideskripsikan berikut ini.

Dewi Surati adalah wanita yang memiliki sifat jujur dan setia kepada suami. Meskipun ia diperistri oleh Putra Mahkota dari kerajaan yang menumbangkan kekuasaan Ramandanya yaitu raja Klungkung, Dewi Surati tidak mau membalas dendam. Ia menilai bahwa suaminya tidak ikut dalam penyerbuan itu. Ia merasa harus membalas budi terhadap suaminya saat ia hidup terlunta-lunta dan nyaris diperkosa oleh dua perampok yang berhasil dibinasakan oleh Raden Banterang yang kini menjadi suaminya.

Dewi Surati bersikeras tidak mau mengkhianati suaminya, meskipun musuh bebuyutan keluarganya, bahkan walaupun kerajaan ayahandanya digulingkan oleh pihak suaminya. Pertemuan dengan Kakandanya sendiri, Bagus Tantra yang menyamar menjadi pengemis dan menghasutnya agar membunuh suaminya, Dewi Surati tetap bersikap jujur tidak mau membunuh suaminya karena merasa bahwa kejujuran juga terkait dengan membalas budi kebaikan. Permasalahan musuh, Dewi Surati menganggap suaminya, Raden Banterang tidak ikut andil dalam eskpansi wilayah dengan penggulingan kekuasaan kerajaan Klungkung, kerajaan ayahandanya. Temuan data tekstual sebagaimana disalin berikut ini.

“Jangan berkata demikian Kakanda Bagus Tantra, aku masih tetap adikmu seperti dulu,” sahut Dewi Surati yang tak lain adalah Dewi Supraba. “Aku menyamar sebagai Dewi Surati untuk menghindari kejaran musuh!”
“Ya, tapi akhirnya kau menjadi istri musuh kita!,” potong Bagus Tantra dengan sengit.
“Suamiku tidak ikut dalam penyerbuan ke pulau Bali. Musuh kita hanya Prabu Menak Prakosa!” Dewi Supraba membela diri.
“Sama saja! Suamimu toh putra Prabu Menak Prakosa! Berarti dia juga musuh kita!” sahut Bagus Tantra.
“Aku dan paman Cokorde rai sedang menyusun kekuatan untuk merebut kembali kerajaan Klungkung. Tapi kau enak-enakan hidup bersama musuh. Kalau kau masih ingin kuakui sebagai adikku, kau harus mau membantuku!”
“Kakanda, aku harus membantu apa?”
“Kau harus membantu kekacauan di istana Blambangan. Kau bisa membunuh suamimu atau membunuh Prabu Menak Prakosa. Sehingga seluruh prajurit akan memusatkan perhatian ke istana. Adipati Ragajampi mungkin akan pulang ke Blambangan untuk berduka cita. Pada saat itulah aku dan Paman Cokorde rai akan bergerak merebut kekuasaan di Klungkung!”
Dewi Supraba ngeri sekali mendengar rencana kakaknya. Tanpa sadar dia berteriak, “Tidaaak! Tidak mungkin aku dapat melakukannya. Aku telah ditolong suamiku ketika aku terlunta-lunta dan hendak diperkosa oleh dua orang perampok!” (hal. 46)

4.4  Deskripsi Kebersatuan dalam hidup yang tercermin dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi

Ada pepatah yang menjadi panutan banyak orang yang mengatakan bahwa : bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Agaknya pomeo semacam ini tertanam dengan baik dan menjadi esensi setiap petuah atau nasehat yang mungkin perlu diambil hikmahnya secara turun temurun bagi setiap generasi. Aspek kebersatuan dalam hidup juga tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi, yaitu ada beberapa temuan sebagai hasil analisis seperti dipaparkan berikut ini.

1.      Setelah kerajaan Klungkung bisa ditaklukkan, Prabu Menak Prakosa memenuhi janjinya dengan mengangkat  Ragajampi (senopati perangnya) sebagai Adipati Klungkung di bawah kekuasaan Blambangan. Adipati Ragajampi segera memboyong keluarganya ke Klungkung bahkan agar bisa merangkul masyarakat agar tidak mendendam serta bisa diajak bersatu, Adipati Ragajampi memerintahkan anak-anak dan istrinya untuk mempelajari adat-istiadat masyarakat Bali, baik menyangkut bahasa, seni tari maupun seni musiknya. Bahkan untuk menunjukkan I’tikad baiknya, pasukannya diperintahkan agar mencari Dewi Supraba dan Raden Bagus Tantra yaitu kedua putra kerajaan Klungkung yang melarikan diri bersama panglima Cokorde Rai saat penaklukan Klungkung. Kepada dewi Supraba dijanjikan akan diperistri, dan kepada Bagus Tantra hendak diangkat menjadi Patih Kadipaten Klungkung. (Simpulan analisis hal. 20)


2.      Sepulang Raden Banterang dari usaha melacak Pendekar Tanpa Nama yang akhirnya bertemu, duel adu kesaktian sampai ia bisa dikalahkan sehingga kemudian ia mengakui sebagai semacam gurunya, di perjalanan pulang ke kerajaan Blambangan, Raden Banterang menolong Dewi Surati, yang notabene adalah Dewi Supraba yang dalam pelariannya menyamar sebagai gadis desa biasa. Ia ditolong saat hendak diperkosa oleh dua penjahat di sebuah sungai. Dua penjahat bisa dibinasakan, dan Dewi Surati selamat bahkan bersedia diajak menghadap ke Ramandanya yaitu Prabu Menak Prakosa untuk diperkenalkan sekaligus dimintakan restu sebagai istrinya. Hal ini sebagai bukti kebersatuan dalam hidup, yang bisa dilihat pada data tekstual berikut.


3.      Prabu Menak Prakosa dan permaisuri memang sudah lama ingin melihat putra satu-satunya berumah tangga, maka ketika Raden Banterang pulang dengan membawa seorang gadis cantik, sang Prabu langsung menyetujuinya.

Demikianlah, akhirnya dilangsungkanlah pernikahan antara Raden Banterang dan Dewi Surati dengan upacara yang megah. (hal. 41)


 

4.5  Deskripsi Kesetiaan dan cinta kasih yang tercermin dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi

Penjelasan tentang bentuk kesetiaan dan wujud cinta kasih yang terdapat dalam Legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara bisa dilihat pada diri tokoh utama dari cerita legenda ini yaitu Dewi Surati. Kesetiaan Dewi Surati terhadap suaminya yaitu Raden Banterang atas tuduhan suaminya bahwa ia dianggap akan berkhianat bahkan akan mengadakan makar dan akan membalas dendam dengan merencanakan pembunuhan terhadap Raden Banterang dengan bukti diketemukannya keris pusaka  yang berciri khas sebagai pusaka kerajaan Klungkung yang berada di bawah bantal tempat tidur mereka berdua. Tuduhan ini dianggap menyakitkan dan perlu pembuktian, maka ketika dirinya diajak ke tepi sungai besar bertebing terjal oleh Raden Banterang, sungai tempatnya dahulu dirinya diselamatkan oleh suaminya tersebut, Dewi Surati membuktikan bahwa dirinya tidak berkhianat, tidak akan mengadakan makar, dan tidak akan membalas dendam meskipun sekitar dua minggu sebelumnya ia bertemu kakandanya yaitu Raden Bagus Tantra yang masih hidup dalam pelarian atau persembunyiannya dan menyamar sebagai pengemis serta menganjurkan kepada Dewi Surati agar membunuh suaminya, yang juga musuh bebuyutan mendiang ayahanda dan ibundanya.  Kesetiaan dan cinta kasih kepada suaminya, ia buktikan dengan rela berkorban menceburkan diri ke dalam sungai, seraya sebelumnya bersumpah bahwa jika air sungai berbau wangi itu pertanda dirinya tidak seperti apa yang dituduhkan, dan jika sebaliknya maka dirinya seperti apa yang dituduhkan suaminya.


Deskripsi data tekstual tentang hal ini bisa dilihat sebagai berikut.
Kemudian Dewi Surati berkata kepada suaminya, “Saksikanlah Kakanda… saya akan mencebur ke sungai itu. Bila nanti sungai itu berbau wangi, itu tandanya saya istrimu yang setia. Tetapi bila berbau busuk itu tandanya saya istri yang bersalah dan berkhianat… selamat tinggal Kakanda…!” (hal. 54)

Ternyata kesetiaan dan cinta kasih Dewi Surati terhadap suaminya terbukti. Hal ini bisa dilihat pada data tekstual kelanjutannya.
“Byur!” air bergolak ketika Dewi Surati menceburkan diri ke sungai. Tubuhnya tenggelam dan tak pernah muncul lagi.
Raden Banterang terpaku berdiri di tempatnya. Sesaat kemudian tercium bau harum dari air sungai. “Banyuwangi” teriak Raden Banterang. Banyuwangi artinya air berbau harum sangat wangi. Kini tahulah Raden Banterang bahwa istrinya itu sesungguhnya tidak bersalah.
Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Raden Banterang menyesali kecerobohannya.
Tapi seribu penyesalan tak akan pernah mengembalikan Dewi Surati yang cantik jelita, lemah lembut dan baik hati.
Tempat kediaman itu kemudian dinamakan Banyuwangi. Di jaman modern ini kota Banyuwangi berkembang menjadi kota yang ramai. (hal. 54)



BAB  V   P E N U T U P

 


5.1 Kesimpulan

Setelah menganalisis hasil penelitian, pada bab ini dipaparkan kesimpulan pembahasan tentang nilai-nilai moral yang tercermin dalam legenda yang berjudul Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara. Kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu (1) gambaran bentuk kejujuran sesama manusia yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara, (2) gambaran bentuk kebersatuan dalam hidup yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara, dan (3) gambaran bentuk kesetiaan dan cinta kasih yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi karya Tira Ikranegara. Masing-masing nilai tersebut dijelaskan berikut ini.


1.      Kejujuran sesama manusia dalam legenda Asal Mula Banyuwangi dapat diartikan sebagai sikap saling menghormati terhadap sesama manusia, tidak pandang bulu dalam perilaku dan perbuatan, selalu menghargai hak milik orang lain dengan ikut serta menjaganya agar tidak diganggu orang lain, dan selalu berusaha membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Kejujuran adalah juga suatu sikap menjauhkan diri dari pengkhianatan, sebagaimana sikap Dewi Surati saat dihasut oleh Kakandanya sendiri yaitu Bagus Tantra agar bersedia membunuh Raden Banterang yaitu suaminya sendiri, namun Dewi Surati tetap tidak bersedia. Ia bisa melepaskan perasaan dendam, dan menatap masa depan bersama suaminya dengan hidup penuh kejujuran sesama manusia.


2.      Kebersatuan dalam hidup yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi mengandung arti bahwa manusia harus selalu mengasihi sesama manusia lainnya tanpa pandang bulu; tidak memiliki rasa kebencian, kedengkian, apalagi permusuhan; selalu menunjukkan rasa kebersamaan dan merasa kehilangan jika  terpisahkan dari mereka; merasa bahwa dalam hidup dan kehidupan ini selalu terdapat saling ketergantungan antara satu dengan lainnya dengan kalimat lain: orang tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa keterlibatan yang lain. Hal kebersatuan dalam hidup ini disimpulkan dari sikap Dewi Surati yang bersedia diperistri oleh Raden Banterang setelah ia ditolong dari upaya pemerkosaan yang dilakukan dua penjahat.


3.      Kesetiaan dan cinta kasih seperti yang tercermin dalam legenda Asal Mula Banyuwangi memiliki makna yang sangat dalam, yaitu bahwa orang akan berharga di mata sesama karena kesetiaannya. Istri akan lebih berharga di mata suamu karena kesetiaannya. Pemimpin dan rakyatnya rela menyabung nyawa bertempur mempertaruhkan harta-benda jiwa-raga  karena kesetiaan kepada negerinya. Bahkan seorang istri, seperti Dewi Surati terhadap suaminya Raden Banterang, untuk menunjukkan kesetiaan dan bukti pengabdiannya kepada suami, ia rela mengorbankan diri tiada lain untuk membuktikan cinta kasih yang sejati. Kesetiaan dan cinta kasih ibarat dua sejoli yang tidak mungkin dipisahkan, ibarat sekeping uang logam yang tidak mungkin terpisahkan. Lebih jauh, esensi yang menjadi inti tema dongeng berupa legenda Asal Mula Banyuwangi ini adalah Kesetiaan dan Cinta Kasih seorang istri yang rela mengorbankan diri sebagai bukti bahwa kesetiaan dan cinta kasihnya kepada sang suami tetap suci dan tak pernah ternoda.

 

Dari ketiga gambaran di atas dapat ditarik kesimpulan yang bisa dijadikan pelajaran sebagai hikmah kehidupan dari Legenda Asal Mula Banyuwangi adalah bahwa hendaknya sebelum bertindak sebaiknya berpikir dan mempertimbangkan baik-baik dan secara seksama, karena penyesalan yang timbul kemudian tidak akan berguna.


5.2 Saran-saran

Sehubungan dengan hasil penelitian tersebut, berikut ini beberapa saran  diharapkan dapat memberi kontribusi serta dijadikan bahan pertimbangan berkaitan pengajaran keterampilan berbahasa dan bersastra Indonesia.

1.      Pembelajaran mengapresiasi karya sastra termasuk dongeng dalam bentuk legenda merupakan salah satu aspek yang dapat memperbaiki akhlak manusia agar tertanam rasa saling percaya, saling mengasihi, saling tolong-menolong dan saling menghormati antar sesama manusia.

2.      Nilai falsafah  yang tercermin dalam kandungan suatu karya sastra selalu bersifat abadi. Oleh sebab itu, tiada batasan untuk mengkaji, mempelajari, dan mengambil suri teladan dari setiap hasil karya sastra yang bernilai tinggi. Esensi filosofi bagi kehidupan ini senantiasa tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas, selalu bersifat universal. Artinya, bagi setiap kaum, bagi setiap jaman, nasehat kehidupan adalah suatu kebutuhan agar manusia menjadi lebih berguna dan hidup menjadi lebih bermakna.



DAFTAR RUJUKAN



Abdul Rani, Supratman. 2004. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: CV Pustaka Setia.

Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Badudu, J.S. dkk.1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Depdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi. Bahasa dan Sastra Indonesia.Pengembangan Kemampuan Menulis Sastra. Buku 3. Jakarta: Direktorat PLP Dirjendikdasmen Depdiknas.

Effendy, M.Roeslan. 1984. Selayang Pandang Kesusastraan Indonesia. Surabaya: PT Bina Ilmu.

IKIP Malang. 1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian. Malang: Satgas OPP Bagian Proyek OPF. IKIP Malang.

Ikranegara, Tira. 2005. Asal Mula Banyuwangi. Surabaya: Karya Agung.

Kaswardi, EM.K.1993. Bunga Rampai Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000. Jakarta: Grasindo.

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Flores: Nusa Indah.

 Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Surtijah, Makrina. 2006. Nilai-nilai Moral Dalam Dongeng Cindelaras dari Cerita Panji. Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPISH IKIP Budi Utomo Malang. Malang: IKIP Budi Utomo Malang.

ssss--------kudedikasikan untuk Indonesiaku tercinta------rrrr























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar