Senin, 20 Agustus 2012

Aresiasi Sastra-Puisi Aku Si Pendosa, oleh Sugeng Rianto



ANALISIS UNSUR INSTRINSIK SAJAK SISWA
“AKU SI PENDOSA” KARYA FAKHAR KURNIADY RAHMASY
DALAM MAJALAH HORISON TAHUN XXXV No 2/2002

Oleh : Sugeng Rianto


ABSTRAK

------------. Analisis Unsur Intrinsik Sajak Siswa “Aku Si Pendosa” Karya Fakhar Kurniady Rahmasy Dalam Majalah Horoson Tahun XXXV No 2/2002.

Kata-kata Kunci : Analisis, Unsur Intrinsik, Sajak.

Pengajaran apresiasi puisi sebagai bagian dari pengajaran sastra merupakan proses belajar yang sangat penting bagi siswa dalam pengembangan keterampilan berbahasa dan bersastra  Indonesia. Sebab, pembelajaran apresiasi puisi memungkinkan siswa bisa berperan aktif dalam kegiatan kreatif, aplikatif, dan rekreatif. Apalagi karya sajak atau puisi yang diapresiasi adalah karya sajak-sajak yang diciptakan oleh anak-anak yang seusia dengan mereka, bahkan mungkin karya mereka sendiri.
Dalam pelaksanaan apresiasi sastra termasuk sajak atau puisi, bisa dimulai dari satu pendekatan di antara berbagai pendekatan. Pendekatan yang menawarkan keleluasaan sesuai tujuan suatu penelitian adalah melalui pendekatan analitis, karena pendekatan ini tidak harus mengkaji keseluruhan aspek yang terkandung dalam suatu cipta sastra. Maka penelitian ini dibatasi pada masalah analisis unsur intrinsik.
            Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang unsur intrinsik yang meliputi lapis bentuk dan lapis makna sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy, santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura yang dimuat dalam Kakilangit No. 62 pada rubrik Cermin Sajak Siswa hal. 19 yaitu sisipan majalah Sastra Horison edisi bulan Februari 2002 Nomor XXXV.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif dengan menganalisa  struktur fisik (struktur lahir), struktur abstrak (struktur batin), serta ide dasar  yang melandasi tema dan pesan amanat penyair setelah mengetahui totalitas makna yang terkandung dalam sajak tersebut.
            Berdasarkan hasil analisis data penelitian pada sajak “Aku Si Pendosa”, diperoleh deskripsi yaitu gambaran yang bisa dijelaskan bahwa ide dasar yang melandasi terciptanya sajak tersebut adalah pencurahan rasa penyesalan atas dosa-dosa karena lalai, lupa, tidak khusyu, tidak ikhlas dalam menjalankan ibadah syariat yaitu sholat lima waktu. Siswa penyair menceritakan dalam empat sholat wajibnya yaitu Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya kesemuanya secara beruntun dilakukan dalam kelalaian waktu, keterpaksaan, ketergesaan, rasa riya di hadapan tokoh yang dikaguminya sehingga melupakan niatnya kepada Tuhan (Allah). Dengan sudut penceritaan “akuan” , siswa penyair menyadari  sedemikian besar dosa-dosanya baik dosa besar apalagi dosa kecil sehingga salah satu cara membersihkannya adalah dengan bertobat sebenar-benar tobat disertai rasa penyesalan sembari memelas memohon dan mengharap rohmat dan ampunanNya.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui sajak, seorang (siswa) penyair mencurahkan segenap kegelisahan jiwa karena merasa banyak dosa atas kelalaian dalam sholatnya. Hal ini bisa dimaknai sebagai suatu isyarat kepada pembaca, kepada kita semua betapa kita pun juga tidak jauh lebih baik dalam kualitas pengabdian kepada Allah Subhanahu Wataala. Melalui apresiasi sajak, kita serasa diajak berintrospeksi, mawas diri, ‘tengoklah ke dalam-di dalam jiwa ini’ demikian Ebiet G. Ade (penyair juga penyanyi) pernah mendendangkan dalam syair yang dilagukannya.
Melalui sajak siswa yang diungkapkan dalam bentuk monolog jiwa batinnya, kita serasa diajak bertobat atas segala dosa seraya memohon, memelas rahmat dan ampunan Allah SWT.



Penulis

BAB  I  PENDAHULUAN

 

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran apresiasi puisi sebagai bagian dari pengajaran sastra merupakan proses belajar yang sangat penting bagi siswa dalam pengembangan keterampilan berbahasa dan bersastra  Indonesia. Sebab, pembelajaran apresiasi puisi memungkinkan siswa bisa berperan aktif dalam kegiatan kreatif, aplikatif, dan rekreatif ini. Apalagi karya sajak atau puisi yang diapresiasi adalah karya sajak-sajak yang diciptakan oleh anak-anak yang seusia dengan mereka, bahkan mungkin karya mereka sendiri.

Pengajaran sastra termasuk puisi sebenarnya merupakan bagian dari pengajaran bahasa, keduanya memiliki hubungan keterkaitan yang tak terpisahkan dan saling mengisi. Pengajaran sastra tidak saja menerima nilai-nilai tertentu dari pengajaran bahasa, tetapi ia pun mampu memberikan nilai-nilai tertentu kepada pengajaran bahasa. Pengajaran apresiasi sastra dapat digunakan untuk membentuk nilai-nilai luhur, meningkatkan perasaan religi, dan membentuk moral yang positif dalam diri siswa. Apresiasi sastra seperti yang dirumuskan oleh Effendi (dalam Aminuddin, 2004:35) sebagai kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga dapat menumbuhkan kepekaan perasaan, pengertian, penghargaan, daya pikir kritis,  serta siswa dapat memetik nilai-nilai moral dan nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sastra.

Kegiatan mengapresiasi karya sastra termasuk sajak atau puisi, harus diawali dari sikap ketertarikan terhadap sastra sebagai suatu karya ciptaan pengarang yang di dalamnya terkandung beragam nilai-nilai kehidupan. Tidak berkelebihan jika Boulton (dalam Aminuddin, 2004:37) beranggapan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu memberi kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai macam problema kehidupan ini.

Aminuddin (2004:38) menegaskan bahwa cipta sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks, yaitu (1) unsur keindahan; (2) unsur kontemplatif hasil perenungan terhadap nilai-nilai keagamaan, filsafat, politik, dan berbagai macam kompleksitas kehidupan; (3) media pemaparan, baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana; serta (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan karakteristik cipta sastra sebagai suatu teks. Diungkapkan pula, bahwa bekal awal yang harus dimiliki seorang calon apresiator adalah (1) kepekaan emosi sehingga mampu memahami unsur-unsur keindahan di dalam cipta sastra, (2) wawasan pengetahuan, penghayatan, dan pengalaman atas kehidupan dan kemanusiaan, (3) pemahaman aspek kebahasaan, dan (4) kepekaan terhadap unsur-unsur intrinsik cipta sastra yang berhubungan dengan telaah teori sastra.

Dalam pelaksanaan apresiasi sastra termasuk sajak atau puisi, bisa dimulai dari satu pendekatan di antara berbagai pendekatan yang dianjurkan oleh Aminuddin (2004:40). Pendekatan yang menawarkan keleluasaan sesuai tujuan suatu penelitian adalah melalui pendekatan analitis, karena pendekatan ini tidak harus mengkaji keseluruhan aspek yang terkandung dalam suatu cipta sastra (Aminuddin, 2004:45).

Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia, dalam keterkaitan panggilan dedikasinya terhadap tugas pengajaran apresiasi sastra khususnya sajak atau puisi, pada dirinya dituntut harus memiliki modal sikap dan kemampuan mencintai, mengakrabi, dan menggauli sastra terlebih dahulu sebelum membimbing dan mengarahkan siswa dalam memasuki dunia yang penuh imajinasi, dunia sajak atau puisi. Maka,  sejalan dengan pemikiran untuk mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam suatu karya sastra terutama puisi, penelitian ini memfokuskan pada analisis unsur intrinsik yang terkandung dalam sajak karya siswa berjudul Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy seorang santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep yang sajaknya dimuat dalam Majalah Sastra Horison edisi bulan Februari 2002 Nomor XXXV.

 

Masalah

Ruang Lingkup masalah

            Cipta sastra sebenarnya mengandung unsur yang sangat kompleks, sehingga untuk tujuan mengapresiasi bisa dilakukan  melalui beberapa pendekatan yang meliputi pendekatan : parafrastis, emotif, analitis, historis, sosiopsikologis, dan pendekatan didaktis. Berkaitan proses kelangsungan apresiasi Olsen (dalam Aminuddin, 2004:40) menawarkan sejumlah pendekatan meliputi: pendekatan emotif,  ekspresif, kognitif, semantis, dan pendekatan struktural. Juga dikemukakan terdapat sejumlah teori sebagai landasan apresiasi sastra meliputi: teori fenomenologi, hermeneutika, formalisme, strukturalisme, semiotika, teori resepsi, dan teori psikoanalisis

.

Batasan Masalah

Berdasarkan ruang lingkup masalah yang sedemikian luas cakupannya untuk mengapresiasi karya, oleh keterbatasan waktu perlu adanya pembatasan masalah. Maka penelitian ini dibatasi pada masalah analisis unsur intrinsik dalam sajak siswa berjudul Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy seorang santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura yang sajaknya dimuat dalam Majalah Sastra Horison edisi bulan Februari 2002 Nomor XXXV.

 

1.2.3  Rumusan Masalah

Bertolak dari pembatasan masalah di atas, masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

Bagaimanakah gambaran struktur lahir (struktur fisik) atau lapis bentuk pada sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy?

Bagaimanakah gambaran struktur batin (struktur abstrak) atau lapis makna pada sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy?

Ide dasar apakah yang melandasi tema dan pesan amanat penyair setelah mengetahui totalitas makna pada sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy?

 

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Secara umum, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara obyektif tentang struktur intrinsik yang meliputi lapis bentuk dan lapis makna sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy, santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison edisi bulan Februari 2002 Nomor XXXV.

 

Tujuan Khusus

Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang obyektif tentang struktur intrinsik sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy.

Mendeskripsikan struktur lahir (struktur fisik) atau lapis bentuk sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy.

Mendeskripsikan struktur batin (struktur anstrak) atau lapis makna sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy.

Deskripsi ide dasar yang melandasi tema dan pesan amanat penyair setelah mengetahui totalitas makna sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy.

 

Penegasan Istilah

            Untuk menyamakan pemahaman sehingga terhindarkan dari kemungkinan terjadinya perbedaan penafsiran berkaitan dengan penggunaan istilah yang dikemukakan dalam penelitian ini, berikut ditegaskan beberapa istilah meliputi:

Analisis adalah istilah yang berasal dari bahasa Inggris analysis yang berarti menguraikan sesuatu, termasuk menguraikan unsur-unsur dalam struktur karya sastra.

Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur puisi yang secara intrinsik terkandung di dalam sebuah karya puisi.

Sajak atau Puisi adalah bentuk karangan yang terikat yang terdiri atas beberapa baris, dan baris-baris itu menunjukkan pertalian makna serta membentuk sebuah bait atau lebih sebagai buah pemikiran yang membangkitkan perasaan, merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.

Horison adalah nama majalah sastra yang terbit bulanan oleh penerbit Yayasan Indonesia dan disalurkan lewat PT Gramedia. Nomor XXXV adalah edisi terbitan bulan Februari tahun 2002.

 

Hasil yang Diharapkan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis maupun teoritis demi perkembangan bahasa dan pengembangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Manfaat praktis yang dimaksud berkaitan erat dengan upaya mengakrabi dan menggauli hasil karya sastra berupa puisi. Kemudian diharapkan berguna juga untuk mengetahui gambaran dari penguasaan segi analisis interpretasi unsur intrinsik (struktur fisik dan struktur abstrak) di dalam karya sajak/puisi. Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai umpan balik bagi guru Bahasa Indonesia tentang bagaimana menafsirkan puisi dengan menggunakan pendekatan secara analisis melalui struktur lahir (lapis bentuk puisi) dan struktur batin (lapis makna). Adapun manfaat teoritis penelitian ini adalah setidak-tidaknya menambah khasanah kepustakaan bahasa Indonesia khususnya bidang apresiasi puisi

 

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Kajian  Pustaka

Pada prinsipnya penelitian tentang Analisis Interpretasi Unsur Intrinsik sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy ini memanfaatkan kajian interdisipliner, artinya penelitian ini dalam upaya menginterpretasi karya sastra memerlukan ilmu terapan dengan mengkaji kepustakaan yang relevan. Beberapa kajian sebagai tinjuan pustaka yang relevan, meliputi (1) tinjauan pengertian puisi dan sajak, (2) tinjauan terhadap apresiasi puisi/sajak, (3) tinjauan terhadap analisis struktur fisik (struktur lahir/lapis bentuk) puisi, dan (4) tinjauan terhadap analisis struktur abstrak (struktur batin/lapis makna) puisi.

 

2.2 Pengertian dan Ragam Puisi

2.2.1 Pengertian Puisi

Ada tiga karya sastra, yaitu prosa, puisi, dan drama. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. Batasan  tentang pengertian puisi, hingga kini belum bisa didefinisikan secara tepat. Secara intuitif orang mengerti puisi hanya berdasarkan konvensi wujud puisi, yang dalam sejarah perkembangannya wujud puisi selalu berubah  Riffaterre (dalam Pradopo, 2005:4). Akhirnya banyak pendapat yang mengemukakan  tentang pengertian puisi.

Beberapa pendapat yang mengemukakan definisi tentang puisi, antara lain dikemukakan Pradopo (2005:5-7) berikut ini.

Puisi adalah bentuk karangan yang terikat, sedangkan prosa ialah bentuk karangan bebas  Wirjosoedarmo (dalam Pradopo, 2005:5).

Definisi puisi menurut Altenbernd (Pradopo, 2005:5) adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the interpretive dramatization of experience in metrical language).

Pradopo (2005:7) merumuskan bahwa puisi itu merupakan pemikiran yang membangkitkan perasaan, merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.

Sebelumnya  Tjahjono (1988:49-50) telah mengemukakan beberapa pendapat :

HB Jassin: Puisi adalah pengucapan dengan perasaan sedangkan prosa pengucapan dengan pikiran.

Matthew Arnold: Puisi merupakan bentuk organisasi tertinggi dari kegiatan intelektual manusia.

William Henry Hudson: Sastra (juga puisi) merupakan ekspresi dari kehidupan yang memakai bahasa sebagai mediumnya.

Bradley: Puisi adalah semangat. Dia bukan pembantu kita, tetapi pemimpin kita.

Ralph Waldo Emerson: Puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sedikit mungkin.

John Dryden: Puisi adalah musik yang tersusun rapi.

Issac Newton: Puisi adalah nada yang penuh keaslian dan keselarasan.

William Wordsworth: Puisi adalah luapan spontan dari perasaan yang  penuh daya,, memperoleh rasanya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.

Lord Byron: Puisi adalah lavanya imajinasi, yang letusannya mampu mencegah adanya gempa bumi.

Watts-Dunton: Puisi adalah ekspresi konkret dan artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

S. Effendi: Karya sastra yang terdiri atas beberapa baris, dan baris-baris itu menunjukkan pertalian makna serta membentuk sebuah bait atau lebih, biasa disebut puisi.

Samuel Johnson: Puisi adalah seni pemaduan kegairahan dengan kebenaran, dengan mempergunakan imajinasi sebagai pembantu akal pikiran.

Mengutip pendapat McCaulay, Hudson (dalam Aminuddin, 2004:134) mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.

Tinjauan Puisi secara Etimologis, kata puisi berasal dari bahasa Yunani poesima/pocima yang berarti membuat, poeisis ‘pembuatan’, atau poeties yang berarti pembuat, pembangun, atau pembentuk. Dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry, yang artinya tak jauh berbeda dengan to make atau to create, sehingga pernah lama sekali di Inggris puisi itu disebut maker. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu baik fisik maupun batiniah  (Tjahjono, 1988:50) dan (Aminuddin, 2004:234) .

 

2.2.2  Ragam Puisi

Tinjauan puisi dari bentuk dan isinya, menurut Aminuddin (2004:134-136) dan Tjahjono (1988:73-85) ragam puisi dibedakan berikut ini.

Puisi Epik, yaitu puisi yang mengandung cerita kepahlawanan (berkaitan legenda, kepercayaan, maupun sejarah). Puisi Epik terbagi lagi menjadi folk epic yakni puisi yang nilai akahir untuk dinyanyikan, dan literary epic bila tujuan akhir puisi untuk dibaca, dinikmati, dipahami, dan diresapi maknanya.

Misal: puisi Nawang Wulan karya Subagio Sastrowardojo)

 

Puisi Naratif, yakni puisi yang mengandung unsur cerita dan menampilkan pelaku, perwatakan, latar, dan alur yang menjalin suatu cerita. Termasuk puisi naratif adalah balada (cerita kesedihan) yang meliputi folk ballad dan literary ballad; dan poetic tale sebagai puisi yang berisi dongeng atau cerita rakyat.

Contoh: puisi Balada Anita karya WS. Rendra.

 

Puisi Lirik, adalah puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala endapan pengalaman, sikap, serta suasana batin yang melingkupinya. Khasanah sastra modern di Indonesia paling banyak diwarnai jenis puisi ini. Contoh: Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi karya Goenawan Mohamad.

 

Puisi Dramatik, yaitu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang/penyair sendiri lewat lakuandialog maupun monolog sehingga mengandung gambaran kisah tertentu. Contoh: Mentari & Bulan karya Tengsoe Tjahjono.

 

Puisi Epigram adalah bentuk puisi pendek yang berisi nasihat tentang ajaran, etika pergaulan, tata krama, dan sebagainya. Gurindam dalam puisi lama dapat digolongkan sebagai bentuk puisi epigram. 

 

Puisi Didaktik, yaitu puisi yang mengandung nilai-nilai pendidikan yang umumnya tampak secara eksplisit. Contoh: Mereka Menunggu Ibunya karya Abdul Hadi WM.

Puisi Satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan, ketimpangan, dan ketidakberesan sistem kehidupan suatu komunitas atau suatu tatanan masyarakat. Contoh: Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini, karya Taufiq Ismail.

 

Romance atau Romans, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap kekasihnya. Contoh: Dialog, karya Krishna Mustajab.

 

Elegi, yakni jenis puisi ratapan yang mengungkapkan rasa sedih seseorang. Misalnya: puisi berjudul Elegi, karya Linus Suryadi AG.

 

Ode, yaitu puisi yang berisi pujian atau sanjungan terhadap seseorang yang memiliki jasa maupun sikap kepahlawanan. Contoh: In Memoriam: Prof. Drs. S. Wojowasito, karya Tengsoe Tjahjono.

 

Himne, yaitu puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air tercinta. Contoh: Tanah Sunda, karya Ajip Rosidi.

Unsur Pembentuk Puisi

Terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Berdasarkan unsur intrinsik pembentuknya, puisi terdiri atas unsur (1) bangun struktur, dan (2) lapis makna.

Bangun Struktur Puisi

Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat dilihat secara visual, yang meliputi (1) bunyi, (2) kata/diksi, (3) larik/baris, (4) bait, dan (5) tipografi  Aminuddin (2004:136-147). Pendekatan analisis struktur ini dengan penelaahan meliputi: rima, diksi, majas, imaji, dan tipografi.

 

(1) Beberapa konsep masalah bunyi meliputi :

Rima, adalah bunyi yang berulang/berselang, dan di dalamnya mengandung aspek (a) asonansi atau runtun vokal, (b) aliterasi atau purwakanti, (c) rima akhir, (d) rima dalam, (e) rima rupa, (f) rima identik, dan (g) rima sempurna.

Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan musikalitas menyangkut alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan lemah-kuat sehingga menimbulkan kemerduan dan sebagainya yang timbul akibat penataan rima, pemberian aksentuasi, dan intonasi.

Ragam bunyi meliputi euphony, bunyi cacophony, dan anomatope.

(2) Kata, yaitu pilihan kata sebagai simbol, hal ini karena bukan makna yang sebenarnya. Pemilihan kata untuk mengungkapkan suatu gagasan disebut diksi. Diksi yang baik berhubungan dengan pilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan suasana sehingga mampu mengajuk daya imajinasi pembacanya.

(3) Bahasa Kiasan adalah ungkapan gaya dan rasa bahasa (bahasa kiasan) yang menunjukkan kepiawaian penyair. Bahasa kiasan  (figurative language)(Pradopo, 2005: 61-79) digunakan dalam puisi untuk mendapatkan kepuitisan sehingga sajak lebih menarik, segar, hidup dan memperjelas gambaran angan. Beberapa contoh gaya bahasa dalam puisi meliputi:

Simile, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain mempergunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, bak, laksana. Contohnya: “tersenyum beta laksana arca” Jassin (dalam Pradopo, 2005:62).

Metafor yakni pengungkapan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya, tanpa menggunakan kata-kata pembanding. Seperti: “Bumi ini perempuan jalang”  Subagio (dalam Pradopo, 2005:66).

Epic simile yaitu perumpamaan atau perbandingan epos yaitu perbandingan yang diperpanjang.

Allegori ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, dan sering terdapat pada sajak-sajak Pujangga Baru.

Personifikasi, kiasan ini mempersamakan benda-benda dengan manusia sehingga dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya. Seperti : “Malas dan malu nyala pelita // seperti meratap mencucuri mata // seisi kamar berduka cita // seperti takut, gentar berkata”  Jassin (dalam Pradopo, 2005:76).

Metonimia adalah kiasan pengganti nama atau objek, seperti contoh dari Altenbernd: “Tongkat kerajaan dan mahkota harus runtuh”-tongkat kerajaan dan mahkota untuk menggantikan pemerintah (raja).

Sinekdoki (Synecdoche) adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting dari suatu benda untuk benda atau hal itu sendiri. Sinekdoki terbagi dua : (1) pars pro toto, sebagian untuk keseluruhan, seperti “kupanjat dinding dan hati wanita” Ajip Rosidi, dan (2) totum pro parte, keseluruhan untuk sebagian, seperti “kujelajah bumi” Sitor Situmorang.

Aminuddin (2004:143-144) menambahkan berikut ini.

Anafora yakni pengulangan kata atau fease pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa. Misalnya: “tak ada yang memerlukan lagi // tak ada yang memanggil kembali” Sapardi Djoko Damono (dalam Aminuddin, 2004:143).

Oksimoron, yakni gaya bahasa yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. Misalnya: “kita mesti berpisah // sebab sudah terlampau lama bercinta” Sapardi Djoko Damono (dalam Aminuddin, 2004:144).

Imaji/Pengimajian (pencitraan), yakni pembayangan kembali (reproduksi mental suatu ingatan) terhadap pengalaman sensasional (perasaan) dan pengalaman persepsional (fikiran). Gambaran-gambaran angan dalam sajak disebut citraan (imagery). Pradopo (2005:81-93) memberi contoh-contoh citraan yang dihasilkan oleh indera penglihatan yakni citraan penglihatan (visual imagery), pendengaran yakni citraan pendengaran (auditory imagery), perabaan, pencecapan, dan penciuman, bahkan juga oleh pemikiran dan gerakan atau citraan gerak (movement imagery) atau kinaesthetic imagery.

 

(5) Tipografi selain untuk menampilkan aspek artistik visual juga untuk memberikan nuansa makna dan suasana tertentu.

 (6) Gaya Bahasa (Majas) dan sarana retorika. Gaya bahasa ialah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hdup dalam hati penyair. Gaya bahasa menghidupkan dan memberi gerak pada kalimat. Kata Middleton Mury, gaya bahasa merupakan idiosyncracy (keistimewaan, kekhususun) seorang penulis, dan Buffon menyatakan bahwa gaya itu adalah orangnya sendiri, cap seorang pengarang (Pradopo, 2005:93). Selanjutnya dikemukakan oleh Pradopo tentang sarana retorika, kata Altenbernd merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran.

Gaya bahasa kepuitisan, seperti dikemukakan Pradopo (2005:95-100) meliputi :

Tautologi, ialah sarana retorika yang menyatakan hal atau keadaan dua kali, agar lebih mendalam bagi pembaca. Misalnya: tiada kuasa tiada berdaya; silih berganti tiada berhenti.

 

Pleonasme (keterangan berulang) mirip tautologi, tetapi kata kedua sudah tersimpul dalam kata pertama. Misalnya: naik meninggi, turun melembah jauh ke bawah, tinggi membukit, jatuh ke bawah.

 

Enumerasi ialah sarana retorika yang berupa pemecahan suatu hal untuk lebih memperjelas.

 

Paralelisme (persejajaran) ialah mengulang isi kalimat yang maksud tujuannya serupa. Misalnya: segala kulihat segala membayang // segala kupegang segala mengenang.

 

Retorik retisense dengan mempergunakan titik-titik banyak pengganti perasaan yang tak terungkapkan.

Sarana retorik hiperbola yaitu sarana yang melebih-lebihkansesuatu hal atau keadaan. Sajak-sajak Angkatan 45 banyak menggunakan ini.

 

Lapis Makna Puisi

Aminuddin (2004:149-151) menyarankan untuk memahami lapis makna sebagai suatu totalitas yang dibentuk oleh elemen atau unsur intrinsik puisi, bisa menggunakan acuan berpikir yang dikembangkan oleh I.A. Richards yang membagi lapis makna meliputi (1) sense, (2) subject matter, (3) feeling, (4) tone, (5) total of meaning, dan (6) theme, serta intention.

(1) Sense, adalah gambaran makna yang berhubungan dengan dunia, atau makna puisi secara umum.

 (2) Subject matter, yakni satuan-satuan pokok pikiran yang terkandung dalam setiap bait atau setiap larik puisi.

 (3) Feeling, yakni sikap pengarang terhadap kesatuan pokok-pokok pikiran.

 

(4) Tone, yakni sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkan dalam puisinya.

 (5) Total of meaning, atau totalitas makna adalah keseluruhan makna yang berhasil disimpulkan dari analisis kandungan makna puisi.

 (6) Theme atau tema adalah ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi. Tema berbeda dengan pandangan moral ataupun message, karena bidang cakupan tema lebih luas daripada pandangan moral maupun message. Intention, amanat dan adalah pesan moral (message) yang disampaikan penyair.

Analisis Lapis Makna Puisi (Total of meaning) atau totalitas makna yang berhasil disimpulkan dari analisis kandungan makna puisi tersebut bisa disusun dalam kalimat sebagai tema puisi.

 

BAB III  METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1 Metodologi Penelitian

Dalam suatu penelitian ilmiah, metodologi menempati peranan yang sangat penting sesuai dengan obyek penelitian.

Yang dimaksudkan dengan metodologi di sini adalah kerangka teoritis yang dipergunakan oleh penulis untuk menganalisa, mengerjakan, atau mengatasi masalah yang dihadapi itu. Kerangka teoritis atau kerangka ilmiah merupakan metode-metode ilmiah yang akan diterapkan dalam pelaksanaan tugas itu  (Keraf, 2001:310).

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian (research methods) adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam merancang, melaksanakan, mengolah data, dan menarik kesimpulan berkenaan dengan masalah penelitian tertentu (Sukmadinata, 2006:317).

Metode penelitian adalah cara untuk mengungkapkan atau menganalisa suatu permasalahan yang menjadi obyek penelitian. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, penulis memerlukan metode. Metode merupakan cara kerja yang harus ditempuh dalam suatu penelitian ilmiah.

Penelitian ini berjudul Analisis Unsur Intrinsik Sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy Dalam Majalah Horison Tahun XXXV/2/2002. Pendekatan yang digunakan adalah melalui metode analisis deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena-fenomena, peristiwa, aktivitas sosial secara alamiah (Sukmadinata, 2006:319). Sehingga penelitian ini berupaya memaparkan secara rinci, sistematis, cermat, dan faktual mengenai unsur-unsur intrinsik yang meliputi lapis bentuk dan lapis makna dalam puisi Ibu.

 

3.3 Sumber Data

Sumber data penelitian ini diambil dari sebuah sajak karya siswa berjudul Aku Si Pendosa oleh Fakhar Kurniady Rahmasy Dalam Majalah Horison Tahun XXXV/2/2002.

 Alasan pemilihan judul sajak tersebut didasari oleh keinginan memahami gagasan ‘si calon penyair/pengarang’, pandangan etis, pandangan filosofis, dan pandangan agamis yang tertuang dalam karyanya melalui pesan amanat pengarang sebagai upaya didaktik terhadap dirinya sendiri dalam etika pengabdiannya kepada Allah SWT dalam hidup dan kehidupan ini. Sajak tersebut cukup menarik untuk dikaji dalam pembelajaran apresiasi puisi karya siswa. Barangkali inilah awal perjalanan kreatif kepenyairan seorang Fakhar ‘kecil’ yang akan mengharumkan bumi Madura, mengikuti jejak pendahulunya semacam D. Zawawi Imron, penyair sekaligus budayawan produk lembaga pendidikan pesantren dari wilayah kota yang sama, yaitu Sumenep, Madura.

 

3.4 Data

Data dalam penelitian ini berupa fakta tekstual karya sastra berupa puisi yang dijadikan bahan untuk mencapai tujuan penelitian. Wujud data berupa paparan bahasa tekstual pada sajak karya siswa berjudul Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy seorang santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep yang sajaknya dimuat dalam Majalah Sastra Horison edisi bulan Februari 2002 Nomor XXXV.

 

3.5 Teknik Penelitian

3.5.1 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah studi dokumenter (documentary study) dengan cara pencatatan, pengidentifikasian, pengklasifikasian paparan data tekstual karya sastra berupa sajak karya siswa berjudul Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison edisi bulan Februari 2002 Nomor XXXV.

 

3.5.2 Teknik Pengolahan Data

Data berupa dokumen-dokumen yang sudah terkumpul kemudian sesuai tujuan penelitian dianalisis (diurai), dibandingkan, dan dipadukan (sintesis) sehingga membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh.

 

3.5.3 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data ditempuh dengan kegiatan mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan memverifikasi dari data-data yang dikumpulkan secara induktif dengan menggunakan analisis yang bersifat naratif-kualitatif   Geoffrey E. Mills (dalam Sukmadinata, 2006:156).

 

3.6 Prosedur Penelitian

3.6.1 Tahap Persiapan

Dimulai dari merumuskan tujuan penelitian, merumuskan  gambaran kerja, membuat desain dengan membuat pedoman kerja hingga menemukan kemantapan desain penelitian.

3.6.2 Tahap Pelaksanaan

            Berupa telaah pustaka, pengumpulan data, analisis data, sampai penyimpulan yang kesemuanya masih dalam bentuk draf/naskah kasar.

 

3.6.3 Tahap Penyelesaian

            Tahap penyelesaian penelitian dilalui dengan penerapan langkah-langkah: penyusunan draf menjadi naskah semifinal, penyusunan dan pengajuan proposal penelitian, menerima arahan pembimbingan kemudian pengetikan/komputerisasi setelah melalui revisi, penyusunan naskah final dan penggandaan laporan hasil penelitian hingga pengujian laporan hasil penelitian (skripsi).

 

 

BAB IV  ANALISIS  DATA

 

4.1 Pengantar

Sajak yang bagus senantiasa meninggalkan kesan, dari perasaan takjub yang khusuk terhadap permasalahan kehidupan, yang bisa jadi problema tersebut menyangkut sejauh mana pengabdian kita kepada Tuhan. Pembaca dibuat terngiang-ngiang, seakan-akan sajak adalah gema. Seluruh citra (imagy) dalam sajak hadir konkret dalam indera para pembacanya karena terkesan oleh pesan amanat yang terkandung dalam sajak. Itu sebabnya perjuangan para calon penyair pada dasarnya menemukan kata (bahasa) sehingga apa yang dituangkannya menyebabkan pembacanya terkesan, terpesona, tergugah. Bahwa kemudian dalam diri pembaca muncul sejumlah tafsir, termasuk tafsir yang berbeda, itu soal lain, soal interpretasi.

Sajak yang bagus bisa jadi muncul dari ungkapan kata-bahasa sarat makna, sederhana, dan bersahaja meskipun terlahir dari seorang anak yang masih bocah atau mungkin sedang duduk di bangku pesantren, nun jauh di sebuah desa di pulau garam, Madura. Seperti halnya sajak berjudul Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy dari Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura yang dimuat dalam majalah sastra Horison edisi bulan Februari 2002 dengan nomor tahun XXXV/2/2002, yang menjadi pilihan penelitian ini.

Moh. Wan Anwar,  sastrawan yang juga apresiator sastra sekaligus sebagai anggota Dewan Redaksi majalah tersebut, tak kurang juga memberikan ulasan apresiasi bahwa dari sederetan sajak kiriman siswa yang dimuat dalam rubrik Cermin dari majalah Horison edisi tersebut, “Aku Si Pendosa” merupakan sajak yang paling menarik. Fakhar mencoba secara konsepsional mengangkat hubungan manusia yang berdosa dengan Tuhannya. Larik-lariknya yang panjang dalam lima bait sajaknya menunjukkan bahwa Fakhar berkeinginan kuat untuk mengungkapkan pemikiran. Ia juga menyadari bahwa pemikiran dalam sajak mesti diungkapkan dalam kata konkret, citra dan kiasan. Ungkapan dan pemikiran Fakhar tentang manusia, dosa, Tuhan, dan taubat dihadirkan dalam kerangka acuan shalat lima waktu. Suatu sajak naratif yang ditulis dengan sudut penceritaan “akuan” serta menggunakan logika dan alur pikiran yang cukup jernih oleh karena itu enak untuk dibaca. Deskripsi selengkapnya hasil analisis unsur intrinsik sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy diuraikan berikut ini.

 

4.2 Deskripsi Data

Sebagaimana yang menjadi tujuan penelitian ini adalah menganalisis unsur intrinsik sajak Aku Si Pendosa karya siswa Fakhar Kurniady Rahmasy yang dimuat dalam majalah sastra Horison edisi bulan Februari 2002 dengan nomor tahun XXXV/2/2002 ini, maka sebelum masuk ke pembahasan lebih lanjut, berikut penulis kutip secara utuh sajak yang dimaksud.

 

Aku Si Pendosa

Siang tadi, kulupakan Tuhanku
Asyik bermain air dalam bak kecil tempat cucianku
Kutahu, baju itu bersih, celanaku kotor tak ada lagi
Tapi aku, jiwa dan batinku
Tak dapat suci dengan kucuci
Tuhan telah tuliskan untukku, satu dosa Dhuhurku

Memang ku sholat setelah itu
Sholat ketakutan, sholat ketergesaan
Tak ada keikhlasan, kekhusyuan dan kenyamanan
Dalam resah perasaanku, mata-mata bergelantungan
Menyorotiku, memperhatikan “sholat apakah ia?”
Tak kuindahkan itu, kulupakan dosaku
Kupilih tempat untuk Asharku bersama orang pujaanku
Kuperhatikan ia, sesekali kulirik matanya
Kulupa dalam sholatku, pada Tuhanku, pada niatku
Kusalami orang itu dengan bangga
Tuhan bangga pula tuliskan untukku, satu dosa Asharku

Riya’ menemani bacaanku
Al-Quran di tanganku menangis tersedu, bersedih
Kulumuri tubuhku dengan dosa dan kepalsuan
Malam ini kumasih lupa
Kulelap dalam Magribku, kutidur dalam sholatku
Ku tak tahu, betapa Tuhan telah tuliskan untukku, satu dosa Magribku

Sekali lagi riya’ menggodaku, merayuku dalam bacaanku
Al-Quran tumpahkan tangis air mata darah
Mengutukku dalam Isya’ku
Tak kuindahkan imam didepanku, kuterus berpacu
Bayangan nikmat sop telur makan malamku
Serta lezat dan gurihnya ikan goreng kesukaanku
Satu lagi dosa Isya’ku, Tuhan menulisnya

Dalam padam lampu, kusadari diriku dalam gelap
Gelap malam dan kegelapan dosa-dosaku, ku tenggelam dalam lumurnya
Kurasakan mata Tuhan mencorong memojokkanku
Dalam pojok masjid putih, serasa dalam kuburan
Kuteriak: “Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaannn…!”
Oh, kuingin bertobat dan bersujud memelas kasih-Mu, mengharap ampunan-Mu
Dalam empat dosa sholatku, kubeku dalam dosa-dosa besarku
Tak terjumlah banyak dosa-dosa kecilku
Kutermangu dalam taubatku
Dalam sungai tangis penyesalanku
 

                                                                        Horison, Kaki langit 62/Februari (19)
                                                                                    Cermin: Sajak Siswa

Sebagaimana yang menjadi kajian memahami lapis makna sebagai suatu totalitas yang dibentuk oleh elemen atau unsur intrinsik puisi atau sajak dengan menggunakan pendekatan seperti yang dianjurkan Aminuddin (2004) dengan menerapkan acuan berpikir yang dikembangkan oleh I.A. Richards, maka hasil analisis sajak “Aku Si Pendosa” karya Fakhar Kurniady Rahmasy dideskripsikan dengan membagi lapis makna meliputi (1) sense, (2) subject matter, (3) feeling, (4) tone, (5) total of meaning, dan (6) theme, serta intention.

4.2.1 Analisis Struktur Batin (Struktur Abstrak) Sajak “Aku Si Pendosa” karya Fakhar Kurniady Rahmasy
Pendekatan secara analisis struktur batin (struktur abstrak) dari sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy, tahapan analisa meliputi: sense, subject matter, feeling, tone, total of meaning, dan intention.
Sense, adalah gambaran umum. Setelah membaca secara keseluruhan sajak “Aku Si Pendosa”, bisa dijelaskan bila siswa penyair menggambarkan kehidupan seseorang yang selalu berbuat dosa kepada Tuhannya. Dosa itu berupa ibadah sholat lima waktu atau sholat wajib yang dijalankan masih diliputi riya, tergesa-gesa, rasa takut, kepalsuan. Suatu perasaan bersalah betapa dalam mengabdi kepada Tuhan masih belum tulus, belum ikhlas sepenuhnya, belum didasari oleh rasa syukur dan mahabbah (cinta suci dan murni) sebagai esensi rasa syukur, rasa berterima kasih atas kenikmatan hidup yang dilimpahkan oleh Tuhan kepada insan yang menghamba, mengabdi kepadaNYA.
Subject matter, yakni topik/pokok pikiran dalam setiap bait atau setiap larik puisi. Sajak “Aku Si Pendosa” terdiri atas 5 bait atau 5 larik, karena setiap larik puisi membentuk bait. Pokok pikiran yang terkandung dalam setiap bait/larik  jika disusun dalam suatu kalimat adalah:

larik pertama: siang itu aku melupakan Tuhanku dengan mengabaikan sholat Dhuhur karena keasyikan bermain air saat mencuci baju dan celana yang tak dapat mencuci batin dan jiwa.

 

larik kedua: walau sholat setelah itu,  tetapi dengan rasa takut, gelisah, tidak ikhlas, tidak khusyu, dan tidak nyaman karena mata-mata malaikat serasa menyoroti sholat apa aku, kesemuanya tak kuindahkan karena aku perlu mencari muka pada orang yang kupuja dalam agama dengan menyalaminya sampai aku lupa pada niat sholatku, maka satu dosa lagi untuk sholat Asharku.

larik ketiga: Riya juga kulakukan saat membaca Al Quran sambil menangis palsu, sampai aku tertidur dan terlelap dalam  sholat Maghribku, hingga bertambah satu lagi untuk dosa Maghribku.

 

larik keempat: Riya terjadi lagi padaku saat membaca Al Quran dengan mengacuhkan imam di depanku karena membayangkan nikmatnya sop telur dan lezat gurihnya ikan goreng kesukaan untuk makan malam, sehingga satu lgi untuk dosa sholat Isyaku.

 

Larik kelima: Dalam gelap malam segelap dosa-dosaku, di pojok masjid yang bersih namun serasa bagai dalam kuburan karena merasa mata Tuhan mencorong memojokkanku, aku tak kuasa hingga menjerit kepada Tuhan kuingin segera bertobat, bersujud, menangis menyesal, memohon belas kasih serta mengharap ampunanNya, mengingat empat dosa sholatku membuatku serasa beku oleh dosa-dosa.

 

Feeling, yakni sikap pengarang terhadap kesatuan pokok-pokok pikiran, dari hasil analisis bisa ditafsirkan jika siswa penyair mengungkapkan bahwa dalam situasi ketermenungan diri atas segala dosa, tidak ada jalan lain kecuali  bertaubat dalam tangis penyesalan sembari bersujud memelas memohon ampunanNya.

 

Tone, yakni sikap penyair terhadap pembaca, dalam sajak “Aku Si Pendosa” adalah berupa penyesalan atas dosa menjalankan sholat dengan kelalaian. Penyesalan sebagai jeritan kalbu atas segala dosa. Siapa pun jika menghadapi kerisauan kalbu karena merasa telah banyak berbuat khilaf dan alpha di saat harus menjalankan kewajiban sholat dengan khusyu dan tawadhu, tiada jalan lain kecuali bertobat dengan sebenar-benarnya taubat kepada Tuhan.

 

 Total of meaning, atau totalitas makna yang berhasil disimpulkan dari analisis kandungan makna puisi tersebut bisa disusun dalam kalimat sebagai tema sajak yakni penyesalan atas kelalaian sholat dengan ikhlas, khusyu, dan tawadhu sebagai sindiran kepada kita ummat Islam bahwa dalam urusan sholat kita ini sebenarnya masih pendosa.

 

Intention, amanat dan pesan moral (message) yang disampaikan penyair adalah ajakan untuk bertobat. Karena bagaimana pun manusia, dosa pasti selalu menghinggapinya. Manusia takkan lepas dari dosa, termasuk dosa menjalankan ibadah sholat yang disertai riya, tidak khusyu, tidak ikhlas tegasnya tidak mukhlisiina lahuddiena-tidak ikhlas dalam beragama. Bertobat adalah sarana pencucian diri dari segala noda dosa.

 

4.2.2 Analisis Struktur Lahir (Struktur Fisik) Sajak “Aku Si Pendosa” karya Fakhar Kurniady Rahmasy

Pendekatan analisis struktur lahir (struktur fisik) sajal “Aku Si Pendosa” dengan penelaahan pada: rima, diksi, majas, imaji, dan tipografi.

(1) Rima, adalah persamaan bunyi, dan pada sajak “Aku Si Pendosa” tampak terutama berupa dominasi rima akhir, walau juga terdapat rima tengah. Jika struktur fisik puisi tersebut bisa dikatagorikan terdiri dari 5 bait atau 5 larik, maka bait  ke 1  dan ke 3 masing-masing memiliki 6 baris. Sedangkan pada bait atau larik ke 2  terdapat 11 baris, bait ke 4 ada 7 baris, dan bait ke 5 memiliki 10 baris. Perhatikan kutipannya:


Siang tadi, kulupakan Tuhanku
Asyik bermain air dalam bak kecil tempat cucianku
Kutahu, baju itu bersih, celanaku kotor tak ada lagi
Tapi aku, jiwa dan batinku
Tak dapat suci dengan kucuci
Tuhan telah tuliskan untukku, satu dosa Dhuhurku

Pada bait pertama di atas terasa adanya dominasi persamaan bunyi vokal /u/ dan sebagian lagi persamaan bunyi vokal /i/ sebagai rima tengah dan rima akhir yang disebut bunyi asonansi. Kemudian pada bait kedua kita perhatikan:


Memang ku sholat setelah itu
Sholat ketakutan, sholat ketergesaan
Tak ada keikhlasan, kekhusyuan dan kenyamanan
Dalam resah perasaanku, mata-mata bergelantungan
Menyorotiku, memperhatikan “sholat apakah ia?”
Tak kuindahkan itu, kulupakan dosaku
Kupilih tempat untuk Asharku bersama orang pujaanku
Kuperhatikan ia, sesekali kulirik matanya
Kulupa dalam sholatku, pada Tuhanku, pada niatku
Kusalami orang itu dengan bangga
Tuhan bangga pula tuliskan untukku, satu dosa Asharku


Pada bait kedua  yang terdiri dari sebelas baris ini masih didominasi persamaan bunyi vokal /u/ sebagai rima tengah dan rima akhir yang disebut bunyi asonansi; juga ada persamaan bunyi konsonan /n/  sehingga termasuk rima akhir bersifat aliterasi.         Lalu bait ketiga:

Riya  menemani bacaanku
Al-Quran di tanganku menangis tersedu, sedih
Kulumuri tubuhku dengan dosa dan kepalsuan
Malam ini kumasih lupa
Kulelap dalam Magribku, kutidur dalam sholatku
Ku tak tahu, betapa Tuhan telah tuliskan untukku, satu dosa Magribku

Mutlak pada bait ketiga ini keseluruhan larik menggunakan persamaan bunyi vokal /u/ sebagai rima tengah dan rima akhir yang disebut bunyi asonansi. Kemudian pada bait keempat kita perhatikan:


Sekali lagi riya’ menggodaku, merayuku dalam bacaanku
Al-Quran tumpahkan tangis air mata darah
Mengutukku dalam Isya’ku
Tak kuindahkan imam didepanku, kuterus berpacu
Bayangan nikmat sop telur makan malamku
Serta lezat dan gurihnya ikan goreng kesukaanku
Satu lagi dosa Isyaku, Tuhan menulisnya

Mutlak pada bait keempat ini kembali dominasi persamaan bunyi vokal /u/ sebagai rima tengah dan rima akhir yang disebut bunyi asonansi. Kemudian pada bait kelima (bait akhir) kita perhatikan:


Dalam padam lampu, kusadari diriku dalam gelap

Gelap malam dan kegelapan dosa-dosaku, ku tenggelam dalam lumurnya

Kurasakan mata Tuhan mencorong memojokkanku
Dalam pojok masjid putih, serasa dalam kuburan
Kuteriak: “Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaannn…!”
Oh, kuingin bertobat dan bersujud memelas kasih-Mu, mengharap ampunan-Mu
Dalam empat dosa sholatku, kubeku dalam dosa-dosa besarku
Tak terjumlah banyak dosa-dosa kecilku
Kutermangu dalam taubatku
Dalam sungai tangis penyesalanku

Pada bait kelima  yang terdiri dari sepuluh baris ini masih didominasi persamaan bunyi vokal /u/ sebagai rima tengah dan rima akhir yang disebut bunyi asonansi; juga ada persamaan bunyi konsonan /n/  sehingga termasuk rima akhir bersifat aliterasi.

Penekanan pengulangan suku kata ku hampir secara menyeluruh pada rima akhir dan sebagian sebagai rima tengah, menegaskan adanya gaya bahasa anafora yakni pengulangan kata, suku kata, juga frase pada setiap akhir larik sajak sehingga sangat relevan sesuai judul sajak Aku Si Pendosa. Dominasi bunyi cacophony yaitu bunyi yang menuansakan suasana penyesalan batin, kebekuan, kesedihan atas segala dosa. Hal ini ditampakkan berupa penggunaan konsonan /n/.

 

Diksi, yaitu pilihan kata sebagai simbol, hal ini karena bukan makna yang sebenarnya. Pada sajak “Aku Si Pendosa” terdapat diksi pada kata  dosa sebagai simbol kesalahan atau kekhilafan diri kepada Tuhan. Pendosa menyiratkan makna simbol selalu berbuat kesalahan dan kekhilafan kepada Tuhan. Dosa Dhuhurku, dosa Asharku, dosa maghribku, dosa Isyaku kesemuanya menyiratkan makna suatu kesalahan, ketidakkhusyuan, ketidakikhlasan, ketidaktulusan dalam pengabdian, dalam persembahyangan, dalam sholat sebagai ibadah wajib kepada Tuhan.

 

Majas, adalah ungkapan gaya dan rasa bahasa yang menunjukkan kepiawaian penyair. Pada sajak “Aku Si Pendosa” siswa penyair menggunakan majas perbandingan yang disebut metafor.

Metafor berarti makna lain bukan makna sebenarnya, misalnya: …jiwa dan batinku, tak dapat suci dengan kucuci, maka makna yang tersirat dari yang tersurat oleh pengertian ini adalah berarti bukan dengan air alat untuk mencuci dosa. Kemudian: mata-mata bergelantungan, makna yang tersirat adalah pengertian bahwa segala gerak-gerik kita selalu diawasi oleh para malaikat pencatat amal perbuatan. Pada tangis air mata darah, seakan tersirat suatu penyesalan luar biasa sampai air mata darah yang mengucur. Gelap malam dan kegelapan dosa-dosaku, ku tenggelam dalam lumurnya, hal ini menyiratkan misteri atau hal yang menakutkan yaitu dosa yang telah membenamkan kita di dalam kubangannya. Sungai tangis, menyiratkan makna suatu tangis penyesalan sehingga air matanya mengalir deras bagai aliran sungai.

 

(4) Imaji (pencitraan) yakni pembayangan kembali (reproduksi mental suatu ingatan) terhadap pengalaman sensasional (perasaan) dan pengalaman persepsional (fikiran). Pencitraan pada sajak “Aku Si Pendosa” berupa imaji visual yang terdapat pada kata: air, bak, baju, celana,mat,, orang, Al Quran, tangan, tubuh, imam, sop telur, ikan goreng, lampu, masjid, kuburan, dan sungai. Lalu imaji hawa (panas/dingin) yakni membayangkan  secara emosional-perseptual tentang cerahnya siang, segarnya air,gelapnya malam, serta kerasnya kubeku. Imaji gerakan terdapat berupa  gerakan: bermain air, tuliskan, kucuci, kulirik, ketakutan, ketergesaan, kuperhatikan, menangis, kulumuri, kulelap, kutidur, kusalami, juga  bersujud, ku tenggelam, dan  kutermangu.

Tipografi, selain untuk menampilkan aspek artistik visual juga untuk memberikan nuansa makna dan suasana tertentu, di mana bentuk segi empat yang rata sebelah sisi kirinya, sementara sisi kanan tidak lurus dan tidak rata mengesankan suatu konstruksi yang tidak simetris atau disebut asimetris. Suatu keseimbangan yang tidak sama belah. Hal ini jelas tidak indah, semacam ketidakindahan suatu pengabdian kepada Tuhan yang masih belum sempurna, masih banyak cacad celanya.

 

4.2.3 Analisis Struktural dan Semiotik Sajak “Aku Si Pendosa” karya Fakhar Kurniady Rahmasy

Dengan mendasarkan pengertian bahwa sajak itu bersifat polynterpretable atau tafsir ganda yaitu menimbulkan banyak tafsir oleh bahasanya yang ambigu (Pradopo, 2005:128), berikut ini hasil analisis sajak “Aku Si Pendosa” karya Fakhar Kuniady Rahmasy yang dilakukan penulis dengan pendekatan secara struktural dan semiotik.

Sajak “Aku Si Pendosa” merupakan monolog si aku sajak atas kualitas pengabdiannya kepada Tuhan dalam bentuk pengamalan peribadatan wajib yang telah digariskan oleh tatanan syariat agama Islam.

Tadi siang, si aku melupakan Tuhan karena begitu asyiknya bermain air dalam bak kecil tempat si aku mencuci pakaian. Si aku tahu bahwa dengan baju bersih dan celana yang tidak ada kotorannya lagi belum cukup untuk mencuci jiwa dan batin si aku sehingga dengan mengejar kebersihan pakaian sholat sampai si aku nyaris melupakan sholat Dhuhurnya.

Meskipun setelah itu si aku melaksanakan sholat, namun sholat atas dasar ketakutan, ketergesaan, jauh dari keikhlasan, kekhusyuan, dan rasa nyaman. Dalam keresahan semacam itu, si aku merasakan adanya mata-mata malaikat pencatat yang mengawasi (bergelantungan) si aku sambil mencemooh untuk sholat apa si aku. Saat Dhuhur telah lewat, sholat Ashar masih belum. Namun semua tidak diindahkan oleh si aku hingga si aku melupakan dosa untuk sholat Dhuhur yang tidak tepat itu, sembari si aku mencari muka mendekat kepada orang yang dikagumi oleh si aku (kyai, ustad, gurunya) bahkan bila perlu menyalaminya dengan rasa bangga pada makhluk sampai si aku melupakan niatnya semula kepada Tuhannya.

Rasa ujub (riya) masih melekat pada diri si aku sampai-sampai Al Quran yang di tangan si aku menangis sedih atas dosa kepalsuan, kemunafikan si aku. malam itu si aku masih lupa hingga terlelap ketiduran dalam sholat Maghrib sehingga si aku merasakan telah menumpuk dosa lagi yang betapa Tuhan mencatat lagi satu dosa atas ibadah sholat maghrib si aku.

Kelengahan dalam membaca Al Quran karena lagi-lagi didasari ujub (riya) membuat kitab itu menumpahkan jeritan tangis air mata darah mengutuk si aku dalam sholat Isya si aku. Hingga si aku tak mengindahkan keberadaan imam di depannya, si aku dalam sholat Isya justru membayangkan nikmat dan lezatnya makan malam dengan sayur sop telur dan gurihnya ikan goreng yang memang makanan kesukaan si aku. hal ini dirasakan oleh si aku betapa satu dosa lagi yang dicatat Tuhan atas tidak khusyuknya sholat Isya si aku karena sholat sambil membayangkan makanan.

Saat dalam kegelapan malam, si aku juga menyadari bahwa dirinya masih terbenam (tenggelam) dalam lumurnya dosa-dosa yang bagaikan malam yang gelap legam. Si aku merasakan ketajaman sorot mata Tuhan yang memojokkan si aku di pojok masjid yang putih bersih namun serasa bagai di dalam liang kubur. Ketakutan atas dosa-dosa ini membuat si aku berteriak menghiba menyebut nama Tuahn dengan jeritan dari dalam jiwa batinnya. Si aku benar-benar ingin bertobat, bersujud memohon belas kasih sayang Tuhan, sambil berharap ampunanNYA. Sebab dalam empat sholat fardhu si aku, si aku terjebak dalam kebekuan dosa-dosa besarnya, belum lagi tak terhitung banyaknya dosa-dosa kecilnya. Akhirnya si aku hanya bisa termangu dalam suasana bertaubat seiring deras mengucurnya airmata penyesalan dari si aku.

 

BAB V  P E N U T U P

 

5.1  Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis unsur intrinsik sajak Aku Si Pendosa karya Fakhar Kurniady Rahmasy, siswa Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura yang dimuat dalam rubrik Kaki Langit untuk kolom Cermin Sajak Siswa pada edisi 62 bulan Februari 2002 halaman 19 dari Majalah Sastra Horison Tahun XXXV No 2/2002, yang diuraikan melalui pendekatan Analisis Struktural dan Semiotik, beberapa temuan hasil analisis bisa disimpulkan berikut ini.

Dengan sudut penceritaan “akuan” , siswa penyair seakan memaparkan betapa kualitas beribadahnya dalam bentuk menjalankan syariaat agama Islam menegakkan sholat lima waktu, masih terasa jauh dari landasan rasa keikhlasan, ketulusan, kekhusyuan menghadap secara lillaahi taala. Kesemuanya dilakukan masih didasari oleh dorongan rasa riya, ujub, pamer, cari muka, atau mungkin sholat karena terdorong oleh  rasa ketakutan padahal semestinya oleh rasa kecintaan( mahabbah), ketergesaan, dan kepalsuan. Jeritan kalbu si aku penyair  secara monolog merupakan ratap batin atas keresahan dosa, namun tersirat semacam sindiran terhadap kita semua yang mengklaim diri sebagai seorang muslim atau muslimah; padahal tauhid, itikad, akhlak, dan muamalah kita masih belum menunjukkan kadar kualitas yang layak bila dihubungkan dengan kriteria muslimin wal muslimah.

Esensi suatu karya sastra adalah buah ciptaan yang diwujudkan dalam medium bahasa seperti sajak atau puisi, dalam mengapresiasinya melalui berbagai pendekatan macam apapun, untuk sebuah karya sajak seorang siswa seyogyanya secara arif harus dipandang selayaknya ungkapan fatwa undur man qola wala tandur manqola-perhatikan apa yang dikatakan dan jangan perhatikan siapa yang mengatakan. Barangkali apa yang dikatakan melalui bibir seorang bocah, mangandung makna yang sangat dalam dan sangat berguna bagi kehidupan.

Dalam khasanah tasawuf, sajak “Aku Si Pendosa” merupakan ungkapan rasa penyesalan yang luar biasa yang bisa mengantarkan seseorang mencapai derajat pembersihan jiwa sebagaimana alur perjalanan pengabdian seorang hamba menuju ridho dan keridhoan Al Khaliq. Bermuara dari rasa penyesalan atas dosa, sebagaimana kita menghuni dunia fana ini karena dosa azali, perasaan bersalah inilah yang dapat memicu dan memacu spirit bertobat. Karena hanya dengan pertobatan yang tulus dan taubatan nasuhalah kita bisa mencapai maqomam mahmudah melalui reka pengendalian diri menekan hawa nafsu dalam upaya pembersihan diri dari segala dosa.

 

 

5.2  Saran

Sesuai hasil pembahasan dan kesimpulan dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat peneliti kemukakan. Hal ini peneliti tujukan kepada para insan pemerhati sastra khususnya mengenai sajak atau puisi buah pena siswa, yaitu berikut ini.

Kepada Pembaca

Diharapkan pembaca  dapat mengambil manfaat penelitian ini yaitu dengan mengambil I’tibar, pelajaran dari sebuah sajak yang diciptakan oleh siswa yang seakan-akan mengajak kepada kita agar mawas diri, betapa kualitas pengabdian kita kepada Tuhan masih banyak dengan kepalsuan, kemunafikan.

Penulis Karya Sastra

Khususnya kepada para siswa yang menggemari dunia menulis sajak atau puisi, hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah motivasi untuk terus mencoba dan berkarya. Sajak yang bagus bisa jadi terselip  di antara naskah-naskah tulisan yang terlahir dari buah cipta anak-anak. Sajak yang bagus menurut hemat penulis, adalah sajak yang bisa dipahami untuk diambil hikmah manfaatnya bagi pembacanya.

Pengajar Sastra (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)

Diharapkan agar hasil penelitian ini bisa memperluas wawasan apresiasi sajak atau puisi, terutama sebagai masukan dalam pembelajaran apresiasi sajak atau puisi karya siswa.

Peneliti Selanjutnya

Terbuka peluang untuk meneliti unsur intrinsik dengan penekanan pendekatan yang lain, karena bagaimanapun mengapresiasi sajak atau puisi itu bersifat multiinterpretable sesuai dengan bahasa sajak atau puisi yang ambigu.


DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rani, Supratman, dkk. 2004. Intisari Sastra Indonesia untuk SLTP. Bandung: CV Pustaka Setia.

Aminuddin. 1990. Sekitar Masalah Sastra. Beberapa Prinsip dan Model Pengembangannya. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh (YAA) Malang.

-----------------2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

IKIP Malang. 1996. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian. Malang: Satgas OPP Bagian Proyek OPF. IKIP Malang.

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Flores: Nusa Indah

Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Salamah, Umi. 2001. Diktat Sejarah dan Teori Sastra. Sebagai Panduan Perkuliahan Matakuliah Sejarah & Teori Sastra di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Budi Utomo. Malang: Prodi PBI FPBS IKIP Budi Utomo Malang.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumardi, dkk. 1997. Pedoman Pengajaran Apresiasi Puisi SLTP & SLTA untuk Guru dan Siswa. Jakarta: PT Balai Pustaka.

Tjahjono, Liberatus Tengsoe. 1988. Sastra Indonesia Pengantar Teori Dan Apresiasi. Ende Flores: Nusa Indah.

Waluyo, Herman J. 2005. Apresiasi Puisi. Panduan Untuk Pelajar Dan Mahasiswa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

s---Dedikasi untuk bangsa dan negara---r

Tidak ada komentar:

Posting Komentar